Bahan bakar
fosil diklasifikasikan secara umum berdasarkan fasenya: padat, cair, dan
gas. Tiap-tiap bahan bakar, terbakar dengan cara yang unik, dan begitu
pula dengan kebutuhan penanganannya yang juga khusus. Dibutuhkan pula
alat-alat yang spesifik untuk mendapatkan campuran reaktan yang baik dan
mentransfer energi panas yang dihasilkan untuk mendapatkan proses
pembakaran yang efisien.
Blog ini dibangun untuk memenuhi salah satu proyek mata kuliah Termodinamika dengan dosen pengampu Bapak Apit Fathurohman, S.Pd., M.Si
Tampilkan postingan dengan label info tambahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info tambahan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 Mei 2015
kompresor tekan
Plant industri menggunakan udara tekan
untuk seluruh operasi produksinya, yang dihasilkan oleh unit udara tekan
yang berkisar dari 5 horsepower (hp) sampai lebih 50.000 hp. Departemen
Energi Amerika Serikat (2003) melaporkan bahwa 70 sampai 90 persen
udara tekan hilang dalam bentuk panas yang tidak dapat digunakan,
gesekan, salah penggunaan dan kebisingan (lihat gambar 1). Sehingga,
kompresor dan sistim udara tekan menjadi area penting untuk meningkatkan
efisiensi energi pada plant industri.
karakteristik turbin cross flow
Penjelasan lengkap tentang karakteristik Turbin Air - Cross Flow
Pemakaian jenis Turbin Cross-Flow
lebih menguntungkan dibanding dengan pengunaan kincir air maupun jenis
turbin mikro hidro lainnya...
Turbin Cross-Flow adalah salah satu turbin air dari jeis turbin aksi (impulse turbine).
Prinsip kerja turbin ini mula-mula ditemukan oleh seorang insinyur
Australia yang bernama A.G.M. Michell pada tahun 1903. Kemudian turbin
ini dikembangkan dan dipatenkan di Jerman Barat oleh Prof. Donat Banki
sehingga turbin ini diberi nama Turbin Banki kadang disebut juga Turbin Michell-Ossberger (Haimerl, L.A., 1960).
Pemakaian jenis Turbin Cross-Flow lebih
menguntungkan dibanding dengan pengunaan kincir air
cara pembuatan perhiasan emas,perak,dll
Cara membuat perhiasan emas, perak, palladium Part I
Kami
di sini akan menjelaskan sedikit cara proses pembuatan perhiasan
seperti cincin kawin, cincin cewek, cincin tunangan, gelang, kalung
nama, dengan menggunakan bahan emas, perak, palladium.
Sebenarnya
pembuatan perhiasan tidak boleh di lakukan secara sembarangan, di
karenakan perhiasan adalah logam mulia jika melakukan pembuatan
perhiasan secara sembarangan maka akan merubah kadar dari perhiasan
tersebut. Harus di lakukan oleh tenaga ahli yang di sebut pengrajin
perhiasan.
Pertama yang harus di lakukan
untuk membuat perhiasan adalah cara mencampur bahan dengan bahan
campuran. Dengan hitungan yang yang pas anda akan mendapat kadar
yang tepat untuk perhiasan anda. Jangan anda sepelekan dalam mencampur
perhiasan, dikarenakan akan fatal jika anda mencampur secara
asal-asalan.
Yang kedua proses peleburan
bahan logam mulia dengan campuranya. Di proses peleburan anda harus
menggunakan tempat yang steril, yang di maksud steril adalah jika anda
membuat perhiasan dengan bahan emas harus di meja yang hanya untuk
membuat emas. Jika anda membuat perhiasan dengan bahan palladium anda
harus menggunakan meja yang hanya untuk membuat palladium. Akan fatal
jadinya jika anda membuat perhiasan emas menggunakan meja perhiasan
palladium, karena akan merubah kadar dari perhiasan tersebut, dan begitu
juga sebaliknya. Kowi yang di gunakan juga harus baru setiap kali
membuat perhiasan. Kowi adalah wadah yang terbuat dari tanah liat yang
di gunakan untuk melebur bahan pembuatan perhiasan.
Untuk
sementara kami jelaskan cara peleburan bahan material perhiasan. Kami
akan terus menambahkan info tentang pembuatanperhiasan. Terus kunjungi
web kami… ^_^
permasalahan dalam pengelasan baja
Proses
pengelasan pada hakekatnya adalah proses penyambungan yang memanfaatkan
fenomena metalurgi. Karena itu permasalahan yang muncul di daerah
sambungan adalah sebagai akibat dari fenomena tersebut. Permasalahan
yang muncul dari fenomena metalurgi pada saat mengelas baja adalah
timbulnya martensit yang diiringi dengan fissure sedangkan pada besi cor
kelabu adalah timbulnya besi cor putih dan martensit.
PENDAHULUANProses pengelasan yang melibatkan adanya pencairan di daerah sambungan, secara metalurgis akan menghasilkan tiga daerah seperti terlihat pada gambar berikut:
Pada daerah logam las (daerah 1) :
Terjadi proses pembekuan dari logam las (weld metal) atau logam pengsisi (filler metal). Fenomena pembekuan akan memunculkan struktur dendritik yang kasar diiringi dengan timbulnya segregasi sebagai akibat adanya laju pendinginan yang relatif cepat. Adanya pengkasaran ukuran butir dan segregasi di daerah logam las akan menurunkan sifat mekanik. Penurunan sifat mekanik yang terjadi jangan sampai melampaui sifat mekanik logam induk. Karena itu berdasarkan hal tsb dan mengingat menurut standar bagian logam las tidak diperkenankan untuk gagal, maka untuk mengkompensasi penurunan tsb dipilih kualitas mekanik logam las minimal 15% lebih tinggi dari sifat logam induk. Disamping itu pada saat logam las membeku (bertransformasi fasa) senantiasa diiringi dengan perubahan volume (dalam hal ini menyusut). Perubahan volume yang mengiringi transformasi fasa merupakan cikal bakal timbulnya destorsi pada sambungan las bahkan menjadi cikal bakal timbulnya retak (crack) baik retak yang timbul dengan segera maupun retak yang timbul berikutnya (delay crack) baik di logam las (1) maupun di daerah yang dipengaruhi panas (3)
Terjadi proses pembekuan dari logam las (weld metal) atau logam pengsisi (filler metal). Fenomena pembekuan akan memunculkan struktur dendritik yang kasar diiringi dengan timbulnya segregasi sebagai akibat adanya laju pendinginan yang relatif cepat. Adanya pengkasaran ukuran butir dan segregasi di daerah logam las akan menurunkan sifat mekanik. Penurunan sifat mekanik yang terjadi jangan sampai melampaui sifat mekanik logam induk. Karena itu berdasarkan hal tsb dan mengingat menurut standar bagian logam las tidak diperkenankan untuk gagal, maka untuk mengkompensasi penurunan tsb dipilih kualitas mekanik logam las minimal 15% lebih tinggi dari sifat logam induk. Disamping itu pada saat logam las membeku (bertransformasi fasa) senantiasa diiringi dengan perubahan volume (dalam hal ini menyusut). Perubahan volume yang mengiringi transformasi fasa merupakan cikal bakal timbulnya destorsi pada sambungan las bahkan menjadi cikal bakal timbulnya retak (crack) baik retak yang timbul dengan segera maupun retak yang timbul berikutnya (delay crack) baik di logam las (1) maupun di daerah yang dipengaruhi panas (3)
korosi galvanis
Mengapa kita perlu memahami korosi dan perlindungannya terhadap besi/ baja?
Karena besi tersedia dalam jumlah besar
di alam, memiliki sifat mekanik yang memadai, dan diperlukan biaya
produksi yang relatif murah untuk digunakan sebagai komponen utama dari
struktur lepas pantai dan darat. Namun besi adalah logam yang sangat
tidak stabil, dan akan menimbulkan korosi mudah bila terjadi kontak
dengan udara lembab, air atau bahkan dengan beberapa bahan kimia yang
akan menimbulkan reaksi dengan baja. Dengan kata lain dalam kondisi
normal atmosfer lembab, proses baja untuk membentuk oksida (Fe2O3 dan
atau Fe (OH) 3) akan berlangsung secara spontan.
Kondisi diatas dapat dengan mudah kita
temui pada aplikasi baja di zona “splash zone” suatu konstruksi laut
seperti jacket platform, dimana di baja akan timbul korosi lebih cepat
karena:
karakteristik water chiller
The
quantities of cooling load and the condition of air in air conditioning
system at a large building always change. In the air conditioning system
using water chiller, the change of two main components influences the
water chiller performance. This paper will discuss the characteristics
of water chiller on the alteration of those main components using a
cycle that is generally used in the air conditioning system at a large
building - the steam compression cycle with intercooler and the standard
steam compression cycle with refrigerant R 22. Both of them are assumed
to run on ideal condition so it is expected to reach an optimum working
area from each water chiller cycle. Then the control system design can
be chosen on appropriate working area. Finally, it will be able to save
electrical energy used in AC machines.
Keywords: water chiller, cooling load, air conditioning1. Pendahuluan
Dari hasil penelitian untuk kebutuhan
energi yang dipergunakan pada hotel-hotel berbintang (Yogyakarta:
Ambarukmo, Garuda, Sahid Garden, Mutiara, Jakarta: Sari Pasific,
Mandarin, Denpasar: Bali Beach Hotel) diperoleh suatu hasil bahwa
konsumsi energi listrik rata-rata setiap meter persegi luas lantai
bangunan sebesar 12,65 kWh/m2 per bulan.
how to choose the right air compressor?
- Hits: 3041
Ultimately, as with any tool, air tools
and the compressors that drive them, have to save the user time and
money on any given project. Most compressed air tools are more powerful
and typically lighter than standard electric tools or battery powered
cordless tools. They are used by virtually every industrial sector from
aircraft to automobiles to dairy farming to textiles.
While there are many types of
compressors, they all perform the same function, which is to increase
the pressure and reduce the volume of a given gas such as air. The most
common type of compressors work by filling a chamber with air and then
reducing the chamber’s volume. These are called positive displacement
compressors. They are the most widely available compressors and include
reciprocating, rotary screw and rotary vane compressors.
Of all the positive displacement
compressors, Reciprocating or Piston compressors are the most commonly
available on the market and can be found in ranges from fractional to
very high horsepower. These compressors are sold world wide by many mass
marketers and a large variety of retail outlets.
Rotary compressors (Screw and Vane) and
the centrifugal compressors are also commonly found but in more of an
industrial/commercial environment. Normally they are operated at
significantly higher horsepower and flow rates, which makes them more
expensive buy and to operate. For more information on rotary compressors
please visit www.daveycompressor.com.
The following paragraphs contain some
very general information on piston compressors that will allow for a
more informed decision concerning the type and size of compressor being
considered.
Single Stage and Two Stage Reciprocating Pumps
Reciprocating (Piston) Compressors can be widely found in two primary configurations; Single Stage and Two Stage.
Single stage air compressors work by
drawing air in and subsequently compressing the air to its final
pressure in single piston stroke. Single stage air compressors can
attain pressures of up to 150 PSI. Typically, a single stage pump will
have a higher CFM(Cubic Feet per Minute) rating than a two stage pump
because every cylinder is drawing in air and compressing it with air
during every rotation.
Two stage air compressors work in a very
similar manner with the primary difference being that they compress the
air in 2 steps or stages. During the first step or stage, air is drawn
in and compressed to an intermediate pressure. After being compressed in
the first stage, the air is piped, usually through an intercooler where
the air is allowed to cool, to be compressed in the final or second
stage. Two stage compressors are normally good for pressures up to
200psi. Two stage pumps are more efficient at higher pressures because
the air is cooled between the stages.
DCFM, SCFM and ACFM
Displaced CFM (DCFM) is a
mathematical formula that calculates the bore, stroke and rpm into a CFM
figure(Bore x stroke x rpm/2200=DCFM). This figure will always be the
highest CFM because this formula does not take into account variables
like temperature, atmospheric pressure, humidity, friction and heat
dissipation.
Another CFM term often used is Standard
CFM (SCFM). It defined as the measured flow of free air and converted
to a standard set of reference conditions (14.5 PSIA, 68 Degrees F, and
0% relative humidity).
Yet another CFM term is Actual CFM
(ACFM). AFCM can be determined in a number of different ways. The most
common methods include measuring the volume of air that is moved through
an orphic plate or measuring pump up times on large compressor tanks
and running through a simple calculation. This CFM number takes in
effect all the variables and will give the true output of the pump at
the current working conditions (i.e. temperature, altitude, humidity,
…).
Often times, CFM numbers are also shown
at various pressures. These numbers can be very useful to help
determine if a compressor produces enough CFM for the desired
application, but can be confusing when comparing differing pressures or
volumes or different compressors.
The best way of comparing compressors is
through SCFM. Since all the measurements are calculated back to a set
of reference standard conditions, it levels the playing field among the
multitude of different manufacturers.
Electric Motors and Horsepower
Compressors are often
rated by Horsepower(HP). As simple as this sounds, there are different
variations of HP. Some compressor manufacturers rate their air
compressors by peak horsepower, also known as brake horsepower. Peak
horsepower is the maximum output that a motor can produce while the
motor has the start windings engaged. Peak HP can be as much as 5-7
times the rated or running HP. Under normal operating conditions, the
start windings are only engaged for a small fraction of a second.
Therefore, using peak horsepower as a comparison tool can be somewhat
misleading since under normal operating conditions the motor only
develops this horsepower during startup. If a motor drive system
causes the start winding to remain engaged for a long period of time,
the motor will either overheat if it has thermal protection or fail
prematurely.
Most electric motor manufacturers rate
their motors by the horsepower developed after the motor has come up to
its designed operating rpm’s and disengaged the start windings. This is
often referred to as running or rated horsepower and is a true
indication of the HP a motor can sustain over a long period of time.
Some other factors to consider when
looking at motors is Duty Cycle and Service Factor. Duty cycle is
normally rated as either intermittent or continuous and is defined as
the time rating under full load. In other words can the motor run at
full load horsepower continuously or only intermittently. The other of
the two noteworthy factors is the Service Factor (S.F.) rating of the
motor. It is defined as the percentage of rated horsepower at which the
motor can safely operate (i.e. 1.15 SF = 115% of rated HP). Higher
service factors allow motors to handle more varied conditions without
causing motor overheating or premature motor failure. Examples that
could cause a motor to run within its Service Factor could be caused by
low voltage, higher ambient temperatures, higher startup load …etc.
Note: Many companies are now eliminating the peak HP reference and instead using SCFM as a more accurate performance indicator.
Air Compressor Buying Guidelines
Before choosing any
compressor to purchase, understanding the compressor’s uses will ensure
that the machine can do the required job. Buying a compressor that is
too small will waste valuable time. Buying a compressor that is way too
large will waste valuable resources. (See the CFM Usage Chart)
It is worth noting that the price of a
compressor cannot be based solely on the up front purchase price of the
unit. The price of any item should be based on the overall cost over an
extended period of time or the life of the unit. Inexpensive units are
designed to be disposable, like lighters.
The questions that need to be answered are:
1.) What is the maximum required operating pressure?
This will determine if a Single Stage or Two Stage compressor will be needed
2.) What is the maximum required CFM usage?
Add up all of the air tools that are to be used at the same
time. When looking at the compressor, add approximately 30% to the
determined CFM number. This will allow for a reasonable buffer against
unknown or uncommon compressor usage.
Do not simply add up all of the air
tools that will be used throughout the work day since this will produce
an inflated CFM number and require the purchase of an overly large
compressor.
3.) Does the machine need to be portable or stationary?
Determine whether or not the unit will
need to be moved around your facility or work site regularly or if it
will be a stationary unit. This will aid in determining other factors
such as size and weight. Higher pressures and volumes will require the
unit to be larger in size and heavier in weight since horsepower
requirements, pumping systems, chassis construction, electrical
components, etc... will have to be larger to accommodate these
increases.
4.) What type of drive system is needed? Electric Motor or Gasoline Engine?
Knowing the environment that the
compressor is to be used in will determine what type of drive system the
machine will need. If there is always electrical power available, then
the drive system should be an electric motor since they are
significantly less expensive to buy and run and require less overall
maintenance. If electrical power is not always available then the
convenience of a gasoline engine driven compressor will be the way to
go. They offer the best in portability and work area flexibility.
5.) What receiver tank size will be needed?
The size of the compressor tank, usually
measured in gallons, should be determined by the overall type of
usage. If the usage is in short quick concentrated bursts, such as an
air nailer, then a small tank size can be used. If the unit is to
sustain long periods of usage, such as a board sander or impact wrench, a
larger tank size will be necessary.
Choosing the Correct Compressor Company
There are a large number of
manufacturers of air compressors in the U.S. today and any one of them
will be more than happy to sell you an air compressors. Before
purchasing any unit from a manufacturer, there are several key factors
that should be considered:
pelumasan dan teknologinya
1. Tribologi
Tribology berasal dari kata tribos (bahasa Yunani yang berarti rubbing, dan logy atau logia artinya studi. Tribologi adalah studi tentang interaksi atau rubbing dari permukaan yang saling bergerak relatif..
Friction biasanya merupakan cabang ilmu
dari bidang teknik mesin ataupun fisika. Wear biasanya bagian dari ilmu
bahan atau metalurgi. Lubrication adalah cabang dari Tribology. Dengan
demikian tribologi adalah ilmu indisipliner dalam semua aspek, dan
memberikan dasar sain untuk memahami fenomena gesekan dan pelumasan
dalam sistim tribologi. Efisiensi pelumasan dan aplikasi pelumas
selanjutnya tergantung pada paremeter kunci seperti konsistensi,
properti aliran atau viskositas untuk cairan yang selalui muncul pada
spesifikasi semua pelumas.
2. Friksi (Friction)
Friksi adalah gaya yang menahan gerakan
sliding atau rolling satu benda terhadap benda lainnya. Friksi merupakan
faktor yang penting dalam mekanisme operasi sebagian besar peralatan
atau mesin.
Friksi besar (high friction) dibutuhkan
untuk bekerjanya mur dan baut, klip kertas, penjepit (tang catut), sol
sepatu, alat pemegang dll. Gaya friksi dibutuhkan pada saat kita jalan
agar tidak terpeleset. Friksi juga dibutuhkaan agar dapat menumpuk
pasir, apel dll.
Namun friksi juga merupakan tahanan
tehadap gerakan yang bersifat merugikan 20% tenaga mesin mobil
dipergunakan untuk mengatasi gaya friksi pada elemen mesin yang
bergerak.
Oleh karena itu friksi kecil (low
friction), dikehendaki untuk benda yang bergerak seperti mesin tenaga
(engine), ski, elemen arloji/jam dll.
Disamping itu juga dibutuhkan friksi
konstan (constant friction) yaitu untuk rem, dan kopling agar geakkan
tidak tersendat sendat.
Friksi telah dipelajari sebagai cabang
mekanika beberapa ratus tahun yang lalu, dan hukum dan metode untuk
memperkirakan besarnya friksi telah diketahui 2 abad lalu. Namun
mekanisme friksi, yaitu proses hilangnya energi jika dua permukaan
saling bergesek tidak dapat diterangkan dengan baik.
Penyebab utama friksi antara dua logam kelihatannya adalah gaya tarik (adesi) daerah kontak (contact region) dari permukaan yang secara mokroskopik tidak beraturan. Jika diperbesar permukaan menyerupai bukit dan lembah.
Jika ada beban, ketika 2 permukaan
bersinggungan, dua bukit menempel (adesi atau menyatu) atau terkunci
dilembah permukaan dihadapannya. Friksi timbul akibat adanya geseran
(shearing) bukit yang menyatu tersebut dan jua akibat ketidak teraturan
permukaan.tersebut, bagian yang keras tertanam kepada bagian lunak.
Friksi dari slidding dua benda padat yang diperoleh dari ekperimen
sederhana menghasilkan kesimpulan sbb :
- Besarnya friksi hampir tidak bergantung pada luas kontak. Jika sebuah bata ditarik diatas meja, gaya friksi tetap sama, baik posisi bata berdidri ataupun tidur. (Leonardo da Vinci (1452-1519)
- Friksi berbanding lurus dengan beban yang bekerja pada permukaan.
Jika bata ditumpuk empat ditarik diatas meja, besarnya friksi empatkalinya friksi satu batayang ditarik..
Jadi rasio gaya friksi F terhadap beban L
adalah tetap. Rasio yang tetap tersebut disebut koefisen friksi
(coefficient of friction ) dan biasanya diberi simbol huruf Yunani mu.
Secara matematik persamaan dapat ditulis sbb :
Koefisien friksi tidak punya satuan, karena friksi dan beban yang diukur dalam satuan gaya (pound atau Newton) saling meniadakan.
Sebagai contoh : Harga koefisien friksi
=0,5 untuk kasus bata ditarik diatas kayu yang berarti bahwa dibtuhkan
gaya sebesar setengah dari berat bata untuk mengatasi friksi, dan
menjaga bata bergerak secara konstan. Gaya friksi arahkan berlawanan
dengan arah gerak bata. Karena friksi timbul antara permukaan yang
bergerak maka ini disebut friksi kinetik (kinetic friction).
Ini untuk membedakan dengan friksi statik
(static friction), yang bekerja pada permukaan yang diam. Harga friksi
statik selalu lebih besar dari friksi kinetik Friksi rolling (rolling
friction) terjadi jika suatu roda, slinder ataupun bola menggelinding
bebas diatas permukaan, sepertihalnya pada ball tau roller bearing.
Sumber friksi utama dalam gerakan rolling adalah disipasi energi yang
meilbatkan deformasi benda. Jika bola keras menggelinding diatas
permukaan, bola sedikit peyang dan permukaan sedikit legok pada daerah
kontak. Deformasi elastik atau kompresi pada daerah kontak tersebut
merupakan penghambat gerakan dan energinya tidak kembali saat benda
kembali ke bentuk semula. Enegi yang hilang pada kedua bagian permukaan
sama dengan energi yang hilang pada bola yang jatuh dan terpantul.
Besarny friksi slidding pada umumnya 100 sampai 1000 kali lebih besar
dibandingkan dengan friksi rolling.Keuntungan gerakan rolling dipahami
oleh manusia pendahulu sehingga ditemukan roda.
3. Keausan (wear)
Keausan (wear) adalah hilangnya materi
dari permukaan benda padat sebagai akibat dari gerakan mekanik. Keausan
umumnya sebagi kehilangan materi yang timbul sebagai akibat interaksi
mekanik dua permukaan yang bergerak slidding dan dibebani. Ini
merupakan fenomena normal yang terjadi jika dua permukaan saling bergesekan, maka akan ada keausan atau perpindahan materi.
merupakan fenomena normal yang terjadi jika dua permukaan saling bergesekan, maka akan ada keausan atau perpindahan materi.
Contohnya uang logam manjadi tumpul
setelah lama dipakai akibat bergesekan dengan kain dan jari manusia.
Pensil mejadi tumpul akibat bersesek dengan kertas, jalan kerena menjadi
legok atau tumpul akibat digelindingi oleh roda kereta terus menerus..
Hanya makhluk hidup (sendi tulang) yang tidak rusak akibat keausan disebabkan memilki kemampuan penyembuhan diri. Dengan pertumbuhan. Namun ada juga organ yang tidak punya kemampuan pulih, misalnya gigi. Studi tentang keausan secatra sistematik dihampat oleh dua faktor utama yaitu;
1. Adanya sejumlah mekanisme proses keausan yang bekerja terpisah.
2. Kesulitan mengukur jumlah kecil materi yang terlibat.
Hanya makhluk hidup (sendi tulang) yang tidak rusak akibat keausan disebabkan memilki kemampuan penyembuhan diri. Dengan pertumbuhan. Namun ada juga organ yang tidak punya kemampuan pulih, misalnya gigi. Studi tentang keausan secatra sistematik dihampat oleh dua faktor utama yaitu;
1. Adanya sejumlah mekanisme proses keausan yang bekerja terpisah.
2. Kesulitan mengukur jumlah kecil materi yang terlibat.
Kesulitan ini dapat diatas menggunakan
teknik penelusuran (tracer techniques) isotop radioaktif yang
memnungkinakn pengukuran jumlah kecil.
Dikenal ada jenis keausan 4 jenis keausan yaitu sebagai berikut :
Adhesive wear adalah jenis yang paling umum, timbul apabila terdapat gaya adesi kuat diantara dua materi padat. Apabila dua permukaan ditekan bersama maka akan terjadi kontak pada bagian yang menonjol. Apabila digeser maka akan terjadi penyambungan dan jika geseran dilanjutkan akan patah. Dan jika patahan tidak terjadi pada saat penyambungan maka yang timbul adalah keausan. Keausan adesi tidak diinginkan karena dua alasan :
Adhesive wear adalah jenis yang paling umum, timbul apabila terdapat gaya adesi kuat diantara dua materi padat. Apabila dua permukaan ditekan bersama maka akan terjadi kontak pada bagian yang menonjol. Apabila digeser maka akan terjadi penyambungan dan jika geseran dilanjutkan akan patah. Dan jika patahan tidak terjadi pada saat penyambungan maka yang timbul adalah keausan. Keausan adesi tidak diinginkan karena dua alasan :
- Kehilangan materi pada akhirnya membawa pada menurunnyanya unjuk kerja suatu mekanisme.
- Pembentukan partikel keausan pada pasangan permukaan slidding yang sangat rapat dapat menyebabkan mekanisme terhambat atau mahkan macet, padahal umur peralatan masih baru.
Keausan adesi beberapa kali lebih besar pada kondisi tanpa pelumasan dibandingkan kondisi permukaan yang dipplumasi dengan baik.
Keausan abrasi (abrasive wear) terjadi
apabila permukaan yang keras bergesekan dengan permukaan yang lebih
lunak., meninggalkan goresan torehan pada permukaan lunak.
Abrasi juga bisa disebabkan oleh patahan
partikel keras yang bergeser diantara dua permukaan lunak. Fragmen
abrasif yang ada dalam fluida mengalir cepat juga dapat menyebabkan
tertorehnya permukaan, jika membentur permukaan pada kecepatan tingiii.
Karena keausan abrasi terjadii oleh adanya partikel lebih keras dari
permukaan masuk sistem, maka pencegahannya adalah dengan mengeliminasi
komtaminan keras.
Corrosive wear occurs whenever a gas or
liquid chemically attacks a surface left exposed by the sliding process.
Normally, when a surface corrodes, the products of corrosion (such as
patina) tend to stay on the surface, thus slowing down further
corrosion. But, if continuous sliding takes place, the sliding action
removes the surface deposits that would otherwise protect against
further corrosion, which thus takes place more rapidly. A surface that
has experienced corrosive wear generally has a matte, relatively smooth
appearance.
Surface-fatigue wear is produced by
repeated high stress attendant on a rolling motion, such as that of
metal wheels on tracks or a ball bearing rolling in a machine. The
stress causes subsurface cracks to form in either the moving or the
stationary component. As these cracks grow, large particles separate
from the surface and pitting ensues. Surfacefatigue wear is the most
common form of wear affecting rolling elements such as bearings or
gears. For sliding surfaces, adhesive wear usually proceeds sufficiently
rapidly that there is no time for surface-fatigue wear to occur.
Though the wear process is generally
thought of as harmful, and in most practical situations is so, it has
some practical uses as well. For example, many methods of producing a
surface on a manufactured object depend on abrasive wear, among them
filing, sanding, lapping, and polishing.
Many writing instruments, principally
the pencil, crayon, and chalk, depend for their effect on adhesive wear.
Another use is seen in the wear of the incisor teeth of rodents. These
teeth have hard enamel covering along the outer curved surface but only
soft dentine on the inner surface.
Hence, abrasive and adhesive wear, which
occurs more rapidly on the softer side, acts to maintain a sharp
cutting edge on the teeth.
4. Pelumasan (Lubrication)
Pelumasan adalah tindakan menempatkan
pelumas antara permukaan yang saling bergeser untuk mengurangi keausan
dan friksi. Pengembangan dan uji pelumas merupakan aspek tribologi yang
menerima perhatian sangat besar. Satu perusahaan pelumas bisa memasarkan
ratusan jenis pelumas dan tidak ada.
Penggunakan pelumas pada jaman kuno,
seperti tergambar pada relief dinding batu di Mesir 4,000 yl., yaitu
orang melumasi jalan saat menyeret patung batu yang berat. Pelumasan
pada jaman modern, sistim pelumasan didesain untuk mengurangi keausan
alat sehingg dapat beroperasi lama dan tanpa pemeliharaan.
Alam menggunakan cairan yang disenbut
synovial fluid pada pelumasan tulang sendi hewan dan manusia. Sedangkan
manusia jaman prasejarah menggunakan lumpur untuk menarik seluncur.
Pelumas dari lemak binatang dipakai
untuk gerobak pertama, dan terus digunakan sampai abad 19 ketika
industri minyak bumi (petroleum) muncul, yang kemudian mejadi sumber
utama pelumas mineral (mineral oil) atau pelumas petro (petroleum
lubricant).
Kemampuan pelumas petro terus dikembangkan untuk memenuhi bervariasi kebutuhan spesifik seperti sepeda motor, mobil, pesawat, mesin turbo, kereta api, mesin pembangkit tenaga dll. dan tuntutan bertambahnya kecepatan dan kapasitas mesin transportasi maupun mesin industri.
Kemampuan pelumas petro terus dikembangkan untuk memenuhi bervariasi kebutuhan spesifik seperti sepeda motor, mobil, pesawat, mesin turbo, kereta api, mesin pembangkit tenaga dll. dan tuntutan bertambahnya kecepatan dan kapasitas mesin transportasi maupun mesin industri.
Zaman jet dan ruang angkasa
memperbaharui minat orang pada pelumas sintetik (synthetic lubricants)
karena menawarkan unjuk kerja superior dibandingkan pelumas petro.
Minyak lumas sintetik walaupun sudah banyak dipasarkan namun harganya
masih beberapa kali lebih mahal dibandingkan dengan pelumas petro
konvensional.
Akhir-akhir ini kepedulian orang
terhadap lingkungan memperbarui minat pada pelumas bio dari minyak
nabati (vegetable oils) yang bersifat ramah lingkungan.
Jenis pelumasan
Ada tiga jenis pelumasan yaitu pelumasan
oleh lapisan cairan (Fluid-film), pelumasan Batas ( Boundary
Lubrication), Pelumasan padat ( Solid Lubrication):
1. Pelumasan Lapisan Fluida (Fluid-film lubrication)
Pelumasan ini dilakukan dengan menyisipkan (interposing) lapisan cairan yang dapat memisahkan secara sempurna permukaan yang bergerak. Lapisan cairan mungkin secara sengaja disediakan seperti minyak lumas pada bantalan (bearings) atau tanpa
sengaja misalnya air yang tergenang di jalan dan roda mobil.
Pelumasan ini dilakukan dengan menyisipkan (interposing) lapisan cairan yang dapat memisahkan secara sempurna permukaan yang bergerak. Lapisan cairan mungkin secara sengaja disediakan seperti minyak lumas pada bantalan (bearings) atau tanpa
sengaja misalnya air yang tergenang di jalan dan roda mobil.
Meskipun umumnya fluida berupa cairan,
tetapi dapat juga dari gas. Gas yang digunakan umumnya adalah udara.
Untuk menjaga agar permukaan tetap terpisahkan maka perlu adanya
kesetimbangan antara gaya tekanan oleh lapisan fluida dan gaya beban
pada permukaan yang bergesek.
Jika tekanan antara dua permukaan
ditimbulkan oleh hasil gerakan dan bentuk daari permukaan tersebut,
sistim ini disebut pelumasan hidrodinamik (hydrodynamic lubrication).
Jenis pelumasan ini bergantung pada viskositas dari pelumas cair.
Jika tekanan fluida diantara dua permukaan diberikan dari luar, misalnya pompa, pelumsan ini disebut pelumasan hidrostatik (hydrostatic lubrication).
Jika tekanan fluida diantara dua permukaan diberikan dari luar, misalnya pompa, pelumsan ini disebut pelumasan hidrostatik (hydrostatic lubrication).
2. Pelumasan Batas (Boundary lubrication)
Suatu kondisi antara pelumasan lapisan fluida dan keadaan tanpa pelumas dan ada disebut pelumasan batas (boundary lubrication). Pada kondisi ini properti permukaan dan properti pelumas menentukan besarnya friksi sistim ini. Pelumasan batas menunjukkan salah satu fenomena pelumasan yang sangat penting, yang dijumpai terutama pada saat mesin start dari keadaan berhenti.
Suatu kondisi antara pelumasan lapisan fluida dan keadaan tanpa pelumas dan ada disebut pelumasan batas (boundary lubrication). Pada kondisi ini properti permukaan dan properti pelumas menentukan besarnya friksi sistim ini. Pelumasan batas menunjukkan salah satu fenomena pelumasan yang sangat penting, yang dijumpai terutama pada saat mesin start dari keadaan berhenti.
3. Pelumasan Padat (Solid lubrication)
Materi padat seperti graphite, molybdenum disulfide (Moly) dan PTFE (Teflon) digunakan secara luas jika pelumas biasa tidak memiliki kemampuan menahan beban dan suhu yang ektrim. Pelumas tidak hanya dari lemak, serbuk, gas tapi juga kadang bahan
logam dipakai sebagai permukaan gesek pada beberapa mesin.
Materi padat seperti graphite, molybdenum disulfide (Moly) dan PTFE (Teflon) digunakan secara luas jika pelumas biasa tidak memiliki kemampuan menahan beban dan suhu yang ektrim. Pelumas tidak hanya dari lemak, serbuk, gas tapi juga kadang bahan
logam dipakai sebagai permukaan gesek pada beberapa mesin.
Beberapa puluh tahun terakhiri ini juga
dikenal jenis pelumas baru yang disebut pelumas sol (sol-lube). Pelumas
ini merupakan koloid, yaitu suspensi pelumas padat dalam pelumas cair.
6. Apa yang ditawarkan oleh Tribologi ?
Fenomena yang menjadi perhatian
tribology sangat fundamental dan sering ditemui dalam kehidupan manusia,
dalam lingkungan benda padat. Aplikasi tribologi yang telah memberikan
kemudahan bagi kehidupan kuno, juga diperlukan bagi kehidupan modern,
seperti yang terdapat pada banyak sistim mekanik yang bekerja berdasarkan nilai friction, lubrication and wear. Dilain pihak dapat dijumpai efek tribologi yang menciptakan kebisingan, sehingga diperlukan kehati hatian dalam mendesain sistim, agar tidak
menciptakan ketidak nyamanan akibat masalah friksi ataupun keausan berlebihan.
seperti yang terdapat pada banyak sistim mekanik yang bekerja berdasarkan nilai friction, lubrication and wear. Dilain pihak dapat dijumpai efek tribologi yang menciptakan kebisingan, sehingga diperlukan kehati hatian dalam mendesain sistim, agar tidak
menciptakan ketidak nyamanan akibat masalah friksi ataupun keausan berlebihan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa friksi
biasanya membuang energi yang cukup besar, sedangkan keausan adalah
membuang waktu produksi, karena harus mengganti komponen mesin. Oleh
karena itu tribologi mendapatkan perhation yang semakin meningkat karena
disadari bahwa energi yang terbuang akibat friksi dan wear sangat besar
(di USA lebih dari 6% Gross National Product [GNP]). Oleh karena itu
potensi yang dijanjikan dengan memperbaiki pengetahuan tribologi juga
akan besar.
Seiring dengan perkembangan peralatan
modern yang sangat komplek, kecepatan dan panas tinggi, tribologi
menawarkan suatu metode mengendalikan keausan berdasarkan pendekatan
sistematis dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu pengetahuan
seperti mekanika fluida, metalurgi, fisika-kimia permukaan dan pelumas.
Jumat, 01 Mei 2015
termoelektrik
Sampai saat ini pembangkitan listrik dari sumber panas harus melalui
beberapa tahap proses. Bahan bakar fosil akan menghasilkan putaran
turbin apabila dibakar dengan tekanan yang sangat tinggi. Hasil putaran
turbin tersebut akan dipakai untuk memproduksi tenaga listrik. Kira-kira
90 persen energi listrik dunia yang berasal dari sumber panas masih
memakai cara ini. Sehingga efisiensi energi masih sangat rendah akibat
beberapa kali proses konversi. Panas yang dihasilkan banyak yang dilepas
atau terbuang percuma.
Sebagai contoh, 1 Watt tenaga listrik membutuhkan sumber input panas sebesar 3 Watt. Sumber panas sebesar 2 Watt yang tidak dipakai terpaksa dibuang ke lingkungan. Apabila proses konversi ini dapat diubah, efisiensi energi akan menjadi lebih besar karena listrik bisa didapatkan langsung dari sumber panas tanpa melalui beberapa kali tahap konversi. Para ilmuwan dari University of California, Berkeley, telah berhasil mengembangkan teknik konversi listrik yang baru sehingga masalah ini mungkin dapat terpecahkan sebentar lagi.
Mereka telah berhasil mengubah sumber panas langsung menjadi tenaga listrik dengan menggunakan molekul organik yang terperangkap diantara partikel-partikel metal. Teknik ini dikembangkan dari Seebeck effect yang menjelaskan bahwa tegangan listrik dapat terjadi ketika dua jenis metal yang berlainan suhu saling berhubungan. Apabila teknik ini dapat diaplikasikan lebih lanjut, maka termoelektrik organik dapat menjadi jawaban baru terhadap masalah sumber energi yang ada saat ini
Sumber : http://www.berkeley.edu/news/media/releases/2007/02/15_heatelectricity.shtml
Sebagai contoh, 1 Watt tenaga listrik membutuhkan sumber input panas sebesar 3 Watt. Sumber panas sebesar 2 Watt yang tidak dipakai terpaksa dibuang ke lingkungan. Apabila proses konversi ini dapat diubah, efisiensi energi akan menjadi lebih besar karena listrik bisa didapatkan langsung dari sumber panas tanpa melalui beberapa kali tahap konversi. Para ilmuwan dari University of California, Berkeley, telah berhasil mengembangkan teknik konversi listrik yang baru sehingga masalah ini mungkin dapat terpecahkan sebentar lagi.
Mereka telah berhasil mengubah sumber panas langsung menjadi tenaga listrik dengan menggunakan molekul organik yang terperangkap diantara partikel-partikel metal. Teknik ini dikembangkan dari Seebeck effect yang menjelaskan bahwa tegangan listrik dapat terjadi ketika dua jenis metal yang berlainan suhu saling berhubungan. Apabila teknik ini dapat diaplikasikan lebih lanjut, maka termoelektrik organik dapat menjadi jawaban baru terhadap masalah sumber energi yang ada saat ini
Sumber : http://www.berkeley.edu/news/media/releases/2007/02/15_heatelectricity.shtml
mengapa angin terasa sejuk?
Mengapa angin terasa sejuk ?
Jika sedang kepanasan membara
lalu tiba-tiba angin berhembus pelan, tubuh pun terasa segar. Biasanya
hembusan angin terasa sejuk. Mungkin anda pernah merasakan hembusan
angin terasa panas ?
Udara bisa terasa panas atau dingin tetapi angin cenderung sejuk atau dingin. Mengapa hembusan angin terasa sejuk ?
Angin adalah udara yang berpindah tempat karena perbedaan tekanan udara.
Angin juga bisa terjadi akibat rotasi bumi tetapi mengenai hal ini
tidak diulas pada tulisan ini. Angin biasanya berpindah dari tempat yang
mempunyai tekanan udara tinggi ke tempat yang mempunyai tekanan udara
rendah. Tekanan udara berkaitan dengan kerapatan atau massa jenis
udara. Pada ketinggian yang sama, udara yang mempunyai kerapatan atau
massa jenis lebih besar mempunyai tekanan yang lebih besar. Sebaliknya
udara yang mempunyai kerapatan atau massa jenis kecil mempunyai tekanan
yang lebih kecil.
Massa jenis atau kerapatan udara
berkaitan dengan volume udara. Semakin besar volume udara semakin kecil
kerapatan udara. Salah satu sifat benda adalah memuai jika dipanaskan
dan menyusut jika didinginkan (kecuali air. Air berperilaku menyimpang
antara suhu 0 oC sampai 4oC). Udara yang panas
biasanya memuai sehingga volumenya bertambah. Karena volume bertambah
maka kerapatan udara panas berkurang. Udara panas yang kerapatannya
berkurang secara alami bergerak ke atas menuju tempat yang mempunyai
kerapatan lebih kecil. Jika di sekitar udara yang panas terdapat udara
yang lebih sejuk maka udara yang lebih sejuk secara alamiah langsung
bergerak menuju posisi awal udara panas.
Pada mulanya tubuh kita kepanasan karena
udara di sekitar kita lebih panas. Panas secara alami berpindah dari
udara yang panas menuju tubuh kita yang lebih dingin. Akibatnya tubuh
kita menjadi kepanasan. Ketika ada angin, udara panas berpindah tempat
(bergerak ke atas) dan posisinya digantikan oleh udara yang lebih
dingin. Adanya perbedaan suhu antara tubuh kita yang lebih panas dengan
udara yang lebih dingin menyebabkan panas dari dalam tubuh kita
berpindah menuju udara yang lebih dingin. Kita merasa sejuk atau dingin
karena sebagian panas dalam tubuh kita telah berpindah menuju udara
dingin
hukum archimedes
Hukum Archimedes menyatakan sebagai berikut, Sebuah benda yang
tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas
yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya.
Sebuah benda yang tenggelam seluruhnya atau sebagian dalam suatu fluida akan mendapatkan gaya angkat ke atas yang sama besar dengan berat fluida fluida yang dipindahkan. Besarnya gaya ke atas menurut Hukum Archimedes ditulis dalam persamaan :
Sebuah benda yang tenggelam seluruhnya atau sebagian dalam suatu fluida akan mendapatkan gaya angkat ke atas yang sama besar dengan berat fluida fluida yang dipindahkan. Besarnya gaya ke atas menurut Hukum Archimedes ditulis dalam persamaan :
Fa = ρ v g
Keterangan :
Fa = gaya ke atas (N)
V = volume benda yang tercelup (m3)
ρ = massa jenis zat cair (kg/m3)
Keterangan :
Fa = gaya ke atas (N)
V = volume benda yang tercelup (m3)
ρ = massa jenis zat cair (kg/m3)
Butiran Es Kosmis Mengawali Proses Menuju Blok Bangunan DNA dan Asam Amino
Dengan menggunakan teknologi baru pada teleskop
dan yang ada di laboratorium, para peneliti menemukan sepasang molekul
prebiotik penting di ruang antarbintang. Penemuan ini menunjukkan bahwa
beberapa bahan kimia
dasar yang merupakan langkah-langkah kunci menuju ke kehidupan mungkin
telah terbentuk pada butiran es berdebu yang mengambang di antara
bintang-bintang.
Para ilmuwan menggunakan Teleskop Green Bank milik National Science Foundation di West Virginia untuk mempelajari awan gas raksasa berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya dari bumi, dekat dengan pusat Galaksi Bima Sakti kita. Bahan kimia yang mereka temukan pada awan tersebut meliputi suatu molekul yang diduga menjadi pelopor bagi komponen kunci DNA dan lainnya yang mungkin berperan dalam pembentukan asam amino alanin.
Molekul yang baru ditemukan itu, disebut cyanomethanimine, merupakan salah satu langkah dalam proses yang diyakini memproduksi adenin, satu dari empat nukleobasa yang membentuk “anak tangga” dalam struktur seperti-tangga DNA. Molekul lainnya, disebut ethanamine, diduga berperan dalam membentuk alanin, satu dari dua puluh asam amino dalam kode genetik.
Para ilmuwan menggunakan Teleskop Green Bank milik National Science Foundation di West Virginia untuk mempelajari awan gas raksasa berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya dari bumi, dekat dengan pusat Galaksi Bima Sakti kita. Bahan kimia yang mereka temukan pada awan tersebut meliputi suatu molekul yang diduga menjadi pelopor bagi komponen kunci DNA dan lainnya yang mungkin berperan dalam pembentukan asam amino alanin.
Molekul yang baru ditemukan itu, disebut cyanomethanimine, merupakan salah satu langkah dalam proses yang diyakini memproduksi adenin, satu dari empat nukleobasa yang membentuk “anak tangga” dalam struktur seperti-tangga DNA. Molekul lainnya, disebut ethanamine, diduga berperan dalam membentuk alanin, satu dari dua puluh asam amino dalam kode genetik.
Aerosol Gunung Berapi, Bukan Polutan, Meredam Pemanasan Global
Berawal dari upaya mencari petunjuk tentang mengapa bumi tidak
mengalami pemanasan pada tingkat yang telah diperkirakan para ilmuwan
antara tahun 2000 dan 2010, tim riset dari University of Colorado
Boulder kini beralih pada penyebab yang selama ini tersembunyi: puluhan
gunung berapi yang memuntahkan sulfur dioksida.
Hasil penelitian mereka pada dasarnya mencabut tudingan bersalah pada negara-negara Asia, termasuk India dan Cina, yang diperkirakan telah meningkatkan emisi sulfur dioksida industri hingga 60 persen dari tahun 2000 hingga 2010 lewat pembakaran batubara, ungkap penulis utama studi Ryan Neely. Sejumlah kecil emisi sulfur dioksida dari permukaan bumi pada akhirnya membumbung naik setinggi 12 hingga 20 mil ke lapisan aerosol stratosfir di atmosfer, tempat di mana reaksi kimia menciptakan asam sulfat dan partikel air yang memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa, mendinginkan planet ini.
Neely menunjuk beberapa pengamatan sebelumnya yang memperlihatkan bahwa meningkatnya aerosol di stratosfir sejak tahun 2000 justru mengimbangi 25 persen tingkat pemanasan yang diduga hasil dari pelepasan emisi gas rumah kaca oleh manusia. “Penelitian baru ini menunjukkan bahwa sejumlah emisi dari gunung berapi yang kecil hingga menengah telah memperlambat pemanasan planet ini,” tegas Neely, seorang peneliti dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences.
Studi yang dipubikasikan secara online dalam jurnal Geophysical Research Letters ini sebagian dilakukan untuk menyelesaikan dua hasil studi sebelumnya yang saling bertentangan mengenai asal usul sulfur dioksida di stratosfer. Salah satunya studi tahun 2009 yang dipimpin Hoffman David dari NOAA, yang menunjukkan bahwa peningkatan aerosol di stratosfer mungkin berasal dari meningkatnya emisi sulfur dioksida di India dan Cina. Sebaliknya, studi tahun 2011 yang dipimpin Vernier menunjukkan bahwa letusan gunung berapi berperan dalam meningkatkan partikulat tersebut di stratosfer.
Studi baru ini juga didasarkan pada studi tahun 2011 yang dipimpin Salomo, yang menunjukkan bahwa aerosol di stratosfer meredam sekitar seperempat dari pemanasan efek rumah kaca di bumi selama dekade terakhir.
Studi baru ini bergantung pada pengukuran jangka panjang perubahan “kedalaman optik” lapisan anaerosol di stratosfir, dengan mengukur tingkat transparansinya, kata Neely. Sejak tahun 2000, kedalaman optik di lapisan aerosol stratosfir telah meningkat sekitar 4 hingga 7 persen, yang berarti sedikit lebih buram sekarang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Implikasi terbesarnya di sini adalah agar para ilmuwan perlu lebih memperhatikan letusan kecil dan sedang gunung berapi saat mencoba memahami perubahan iklim bumi,” saran Brian Toon dari Departemen Ilmu Atmosfer dan Kelautan University of Colorado, Boulder, “Namun secara keseluruhan, letusan-letusan ini tidak akan menangkal efek rumah kaca. Emisi gas vulkanik bersifat naik dan turun, membantu mendinginkan atau memanaskan planet ini, sementara emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia terus meningkat.”
Hasil penelitian mereka pada dasarnya mencabut tudingan bersalah pada negara-negara Asia, termasuk India dan Cina, yang diperkirakan telah meningkatkan emisi sulfur dioksida industri hingga 60 persen dari tahun 2000 hingga 2010 lewat pembakaran batubara, ungkap penulis utama studi Ryan Neely. Sejumlah kecil emisi sulfur dioksida dari permukaan bumi pada akhirnya membumbung naik setinggi 12 hingga 20 mil ke lapisan aerosol stratosfir di atmosfer, tempat di mana reaksi kimia menciptakan asam sulfat dan partikel air yang memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa, mendinginkan planet ini.
Neely menunjuk beberapa pengamatan sebelumnya yang memperlihatkan bahwa meningkatnya aerosol di stratosfir sejak tahun 2000 justru mengimbangi 25 persen tingkat pemanasan yang diduga hasil dari pelepasan emisi gas rumah kaca oleh manusia. “Penelitian baru ini menunjukkan bahwa sejumlah emisi dari gunung berapi yang kecil hingga menengah telah memperlambat pemanasan planet ini,” tegas Neely, seorang peneliti dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences.
Studi yang dipubikasikan secara online dalam jurnal Geophysical Research Letters ini sebagian dilakukan untuk menyelesaikan dua hasil studi sebelumnya yang saling bertentangan mengenai asal usul sulfur dioksida di stratosfer. Salah satunya studi tahun 2009 yang dipimpin Hoffman David dari NOAA, yang menunjukkan bahwa peningkatan aerosol di stratosfer mungkin berasal dari meningkatnya emisi sulfur dioksida di India dan Cina. Sebaliknya, studi tahun 2011 yang dipimpin Vernier menunjukkan bahwa letusan gunung berapi berperan dalam meningkatkan partikulat tersebut di stratosfer.
Studi baru ini juga didasarkan pada studi tahun 2011 yang dipimpin Salomo, yang menunjukkan bahwa aerosol di stratosfer meredam sekitar seperempat dari pemanasan efek rumah kaca di bumi selama dekade terakhir.
Studi baru ini bergantung pada pengukuran jangka panjang perubahan “kedalaman optik” lapisan anaerosol di stratosfir, dengan mengukur tingkat transparansinya, kata Neely. Sejak tahun 2000, kedalaman optik di lapisan aerosol stratosfir telah meningkat sekitar 4 hingga 7 persen, yang berarti sedikit lebih buram sekarang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Implikasi terbesarnya di sini adalah agar para ilmuwan perlu lebih memperhatikan letusan kecil dan sedang gunung berapi saat mencoba memahami perubahan iklim bumi,” saran Brian Toon dari Departemen Ilmu Atmosfer dan Kelautan University of Colorado, Boulder, “Namun secara keseluruhan, letusan-letusan ini tidak akan menangkal efek rumah kaca. Emisi gas vulkanik bersifat naik dan turun, membantu mendinginkan atau memanaskan planet ini, sementara emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia terus meningkat.”
temperatur matahari
Sudah puluhan tahun lamanya, ilmuwan dibuat penasaran terkait
misteri korona atau atmosfer matahari. Aneh memang, atmosfer matahari
ternyata lebih panas dari permukaan matahari itu sendiri.
Menurut logika, seharusnya permukaan matahari yang lebih dekat dengan inti memiliki suhu yang lebih tinggi dari atmosfer atau korona. Namun faktanya tidak demikian, suhu permukaan matahari hanya 6.000 derajat Celsius.
Di sisi lain, suhu rata-rata korona justru mencapai 1.000.000 derajat Celsius. Bahkan, di beberapa bagian tertentu suhu koronanya bisa 2.000.000 derajat Celsius!
Peneliti NASA, Dr. Jim Klimchuck, mengatakan bila fenomena yang tidak lazim itu disebabkan oleh ledakan-ledakan yang terjadi di atmosfer matahari. Jumlahnya ledakan yang disebut 'nanoflare' itu bukan hanya satu atau dua, tetapi jutaan.
Yang lebih mengejutkan, satu ledakan nanoflare diprediksi sama kuatnya dengan ledakan 50 juta ton bom hidrogen, bom terkuat yang pernah diledakkan di bumi. Nah, satu ledakan nanoflare bisa meninggalkan panas setara dengan 11 juta derajat Celsius.
Berdasarkan penelitian Dr. Jim Klimchuck, jumlah ledakan nanoflare menurun drastis di permukaan matahari. Akibatnya, suhu permukaan matahari lebih rendah dari korona yang menjadi tempat berlangsungnya ledakan jutaan nanoflare.
"Setiap nanoflare menghasilkan ledakan setara dengan bom terkuat di bumi. Meskipun ledakan nanoflare di korona kecil, jumlahnya yang mencapai jutaan bisa melonjakkan suhu atmosfer matahari dengan drastis," ujar Dr. Jim Klimchuck, Daily Mail (28/04).
Bukti keberadaan nanoflare di atmosfer matahari pun sudah dikantongi oleh NASA. Mereka berhasil mengamatinya lewat teleskop yang khusus dipakai untuk meneliti matahari, Solar Dynamics Observatory (SDO).
Menurut logika, seharusnya permukaan matahari yang lebih dekat dengan inti memiliki suhu yang lebih tinggi dari atmosfer atau korona. Namun faktanya tidak demikian, suhu permukaan matahari hanya 6.000 derajat Celsius.
Di sisi lain, suhu rata-rata korona justru mencapai 1.000.000 derajat Celsius. Bahkan, di beberapa bagian tertentu suhu koronanya bisa 2.000.000 derajat Celsius!
Peneliti NASA, Dr. Jim Klimchuck, mengatakan bila fenomena yang tidak lazim itu disebabkan oleh ledakan-ledakan yang terjadi di atmosfer matahari. Jumlahnya ledakan yang disebut 'nanoflare' itu bukan hanya satu atau dua, tetapi jutaan.
Yang lebih mengejutkan, satu ledakan nanoflare diprediksi sama kuatnya dengan ledakan 50 juta ton bom hidrogen, bom terkuat yang pernah diledakkan di bumi. Nah, satu ledakan nanoflare bisa meninggalkan panas setara dengan 11 juta derajat Celsius.
Berdasarkan penelitian Dr. Jim Klimchuck, jumlah ledakan nanoflare menurun drastis di permukaan matahari. Akibatnya, suhu permukaan matahari lebih rendah dari korona yang menjadi tempat berlangsungnya ledakan jutaan nanoflare.
"Setiap nanoflare menghasilkan ledakan setara dengan bom terkuat di bumi. Meskipun ledakan nanoflare di korona kecil, jumlahnya yang mencapai jutaan bisa melonjakkan suhu atmosfer matahari dengan drastis," ujar Dr. Jim Klimchuck, Daily Mail (28/04).
Bukti keberadaan nanoflare di atmosfer matahari pun sudah dikantongi oleh NASA. Mereka berhasil mengamatinya lewat teleskop yang khusus dipakai untuk meneliti matahari, Solar Dynamics Observatory (SDO).
Senin, 16 Maret 2015
Tekan Subsidi Listrik, Pemerintah Terapkan Pengaturan Target Kinerja PLN
Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah mengembangkan
Performance Based Regulatory (PBR) pengaturan target performance untuk
menekan subsidi listrik pada tahun anggaran 2015 sehingga tidak lagi
menggunakan metode biaya pokok produksi (BPP).
Pengaturan target performance ini diterapkan agar PLN dapat meningkatkan efisiensi, memperbaiki kualitas
Pengaturan target performance ini diterapkan agar PLN dapat meningkatkan efisiensi, memperbaiki kualitas
Keracunan AC taksi, sopir dan 3 penumpang pingsan dalam mobil
Merdeka.com - Agaknya masyarakat perlu mewaspadai penggunaan AC di mobil-mobil. Sebab, bisa jadi mesin pendingin ini mengandung racun mematikan. Seperti yang terjadi di Jalan A Yani, Surabaya, Jawa Timur, Jumat petang (20/2).
Tiga penumpang Taksi Bosowa dan sopirnya 'mabuk' tak sadarkan diri. Diduga, keempat orang itu keracunan karena menghirup udara dingin dari AC dalam mobil.
Bagaimana cara kerja mesin pendingin AC?
Bagaimana cara kerja mesin pendingin AC? sehingga mampu memberikan efek pendingin dalam ruangan
Anda? AC alias Air Conditioner alias Pengkondision Udara merupakan seperangkat
alat yang mampu mengkondisikan ruangan yang kita inginkan, terutama mengkondisikan
ruangan menjadi lebih rendah suhunya dibanding suhu lingkungan
sekitarnya.
Seperangkat alat tersebut diantaranya:
- kompresor,
- kondensor,
- orifice tube,
- evaporator,
apa itu mesin carnot?
Mesin Carnot adalah mesin kalor hipotetis yang beroperasi dalam suatu siklus reversibel yang disebut siklus Carnot. Model dasar
mesin ini dirancang oleh Nicolas Léonard Sadi Carnot, seorang
insinyur militer Perancis pada tahun 1824. Model mesin Carnot
kemudian dikembangkan secara grafis oleh Émile Clapeyron 1834, dan diuraikan secara matematis oleh Rudolf Clausius pada 1850an dan 1860an. Dari
pengembangan Clausius dan Clapeyron inilah konsep dari entropi mulai muncul.
mengukur pemanasan global
Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa
Pada awal 1896, para ilmuwan
beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan suhu rata-rata
global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program
penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel
atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai.
Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan
konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu,
komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa
memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Langganan:
Postingan (Atom)



