Blog ini dibangun untuk memenuhi salah satu proyek mata kuliah Termodinamika dengan dosen pengampu Bapak Apit Fathurohman, S.Pd., M.Si
Tampilkan postingan dengan label info tambahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info tambahan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2015

bahan bakar fosil

Bahan bakar fosil diklasifikasikan secara umum berdasarkan fasenya: padat, cair, dan gas. Tiap-tiap bahan bakar, terbakar dengan cara yang unik, dan begitu pula dengan kebutuhan penanganannya yang juga khusus. Dibutuhkan pula alat-alat yang spesifik untuk mendapatkan campuran reaktan yang baik dan mentransfer energi panas yang dihasilkan untuk mendapatkan proses pembakaran yang efisien.

kompresor tekan

Plant industri menggunakan udara tekan untuk seluruh operasi produksinya, yang dihasilkan oleh unit udara tekan yang berkisar dari 5 horsepower (hp) sampai lebih 50.000 hp. Departemen Energi Amerika Serikat (2003) melaporkan bahwa 70 sampai 90 persen udara tekan hilang dalam bentuk panas yang tidak dapat digunakan, gesekan, salah  penggunaan dan kebisingan (lihat gambar 1). Sehingga, kompresor dan sistim udara tekan menjadi area penting untuk meningkatkan efisiensi energi pada plant industri.

karakteristik turbin cross flow

Penjelasan lengkap tentang karakteristik Turbin Air - Cross Flow

Pemakaian jenis Turbin Cross-Flow lebih menguntungkan dibanding dengan pengunaan kincir air maupun jenis turbin mikro hidro lainnya...
Turbin Cross-Flow adalah salah satu turbin air dari jeis turbin aksi  (impulse turbine). Prinsip kerja turbin ini mula-mula ditemukan oleh seorang insinyur Australia yang bernama A.G.M. Michell pada tahun 1903. Kemudian turbin ini dikembangkan dan dipatenkan di Jerman Barat oleh Prof. Donat Banki sehingga turbin ini diberi nama Turbin Banki kadang disebut juga Turbin Michell-Ossberger (Haimerl, L.A., 1960).
Pemakaian jenis Turbin Cross-Flow lebih menguntungkan dibanding dengan pengunaan kincir air

cara pembuatan perhiasan emas,perak,dll

Cara membuat perhiasan  emas, perak, palladium Part I







Kami di sini akan menjelaskan sedikit cara proses pembuatan perhiasan seperti cincin kawin, cincin cewek, cincin tunangan, gelang, kalung nama, dengan menggunakan bahan emas, perak, palladium.
Sebenarnya pembuatan perhiasan tidak boleh di lakukan secara sembarangan, di karenakan perhiasan adalah logam mulia jika melakukan pembuatan perhiasan secara sembarangan maka akan merubah kadar dari perhiasan tersebut. Harus di lakukan oleh tenaga ahli yang di sebut pengrajin perhiasan.
Pertama yang harus di lakukan untuk membuat perhiasan adalah cara mencampur bahan dengan bahan campuran. Dengan hitungan yang yang pas anda akan mendapat  kadar yang tepat untuk perhiasan anda. Jangan anda sepelekan dalam mencampur perhiasan, dikarenakan akan fatal jika anda mencampur secara asal-asalan.
Yang kedua proses peleburan bahan logam mulia dengan campuranya. Di proses peleburan anda harus menggunakan tempat yang steril, yang di maksud steril adalah jika anda membuat perhiasan dengan bahan emas harus di meja yang hanya untuk membuat emas. Jika anda membuat perhiasan dengan bahan palladium anda harus menggunakan meja yang hanya untuk membuat palladium. Akan fatal jadinya jika anda membuat perhiasan emas menggunakan meja perhiasan palladium, karena akan merubah kadar dari perhiasan tersebut, dan begitu juga sebaliknya. Kowi yang di gunakan juga harus baru setiap kali membuat perhiasan. Kowi adalah wadah yang terbuat dari tanah liat yang di gunakan untuk melebur bahan pembuatan perhiasan.
Untuk sementara kami jelaskan cara peleburan bahan material perhiasan. Kami akan terus menambahkan info tentang pembuatanperhiasan. Terus kunjungi web kami… ^_^

permasalahan dalam pengelasan baja

Proses pengelasan pada hakekatnya adalah proses penyambungan yang memanfaatkan fenomena metalurgi. Karena itu permasalahan yang muncul di daerah sambungan adalah sebagai akibat dari fenomena tersebut. Permasalahan yang muncul dari fenomena metalurgi pada saat mengelas baja adalah timbulnya martensit yang diiringi dengan fissure sedangkan pada besi cor kelabu adalah timbulnya besi cor putih dan martensit.
PENDAHULUAN
Proses pengelasan yang melibatkan adanya pencairan di daerah sambungan, secara metalurgis akan menghasilkan tiga daerah seperti terlihat pada gambar berikut:
Pada daerah logam las (daerah 1) :pendahuluan
Terjadi proses pembekuan dari logam las (weld metal) atau logam pengsisi (filler metal). Fenomena pembekuan akan memunculkan struktur dendritik yang kasar diiringi dengan timbulnya segregasi sebagai akibat adanya laju pendinginan yang relatif cepat. Adanya pengkasaran ukuran butir dan segregasi di daerah logam las akan menurunkan sifat mekanik. Penurunan sifat mekanik yang terjadi jangan sampai melampaui sifat mekanik logam induk. Karena itu berdasarkan hal tsb dan mengingat menurut standar bagian logam las tidak diperkenankan untuk gagal, maka untuk mengkompensasi penurunan tsb dipilih kualitas mekanik logam las minimal 15% lebih tinggi dari sifat logam induk. Disamping itu pada saat logam las membeku (bertransformasi fasa) senantiasa diiringi dengan perubahan volume (dalam hal ini menyusut). Perubahan volume yang mengiringi transformasi fasa merupakan cikal bakal timbulnya destorsi pada sambungan las bahkan menjadi cikal bakal timbulnya retak (crack) baik retak yang timbul dengan segera maupun retak yang timbul berikutnya (delay crack) baik di logam las (1) maupun di daerah yang dipengaruhi panas (3)

korosi galvanis

Mengapa kita perlu memahami korosi dan perlindungannya terhadap besi/ baja?
Galvanic-corrosion-Cu-Fe1
Karena besi tersedia dalam jumlah besar di alam, memiliki sifat mekanik yang memadai, dan diperlukan biaya produksi yang relatif murah untuk digunakan sebagai komponen utama dari struktur lepas pantai dan darat. Namun besi adalah logam yang sangat tidak stabil, dan akan menimbulkan korosi mudah bila terjadi kontak dengan udara lembab, air atau bahkan dengan beberapa bahan kimia yang akan menimbulkan reaksi dengan baja. Dengan kata lain dalam kondisi normal atmosfer lembab, proses baja untuk membentuk oksida (Fe2O3 dan atau Fe (OH) 3) akan berlangsung secara spontan.
Kondisi diatas dapat dengan mudah kita temui pada aplikasi baja di zona “splash zone” suatu konstruksi laut seperti jacket platform, dimana di baja akan timbul korosi lebih cepat karena:

karakteristik water chiller

The quantities of cooling load and the condition of air in air conditioning system at a large building always change. In the air conditioning system using water chiller, the change of two main components influences the water chiller performance. This paper will discuss the characteristics of water chiller on the alteration of those main components using a cycle that is generally used in the air conditioning system at a large building - the steam compression cycle with intercooler and the standard steam compression cycle with refrigerant R 22. Both of them are assumed to run on ideal condition so it is expected to reach an optimum working area from each water chiller cycle. Then the control system design can be chosen on appropriate working area. Finally, it will be able to save electrical energy used in AC machines.
Keywords: water chiller, cooling load, air conditioning

1. Pendahuluan

Dari hasil penelitian untuk kebutuhan energi yang dipergunakan pada hotel-hotel berbintang (Yogyakarta: Ambarukmo, Garuda, Sahid Garden, Mutiara, Jakarta: Sari Pasific, Mandarin, Denpasar: Bali Beach Hotel) diperoleh suatu hasil bahwa konsumsi energi listrik rata-rata setiap meter persegi luas lantai bangunan sebesar 12,65 kWh/m2 per bulan.

how to choose the right air compressor?

CompressorAir compressors have been around for well over 100 years and have as many uses as there are tools that use air. One reason for their popularity is because air as a resource is safe, flexible, clean and convenient.  These machines have evolved into highly reliable pieces of equipment that are almost indispensable in most of the applications they serve. Compressors can come in a wide variety of different types and sizes.
Ultimately, as with any tool, air tools and the compressors that drive them, have to save the user time and money on any given project. Most compressed air tools are more powerful and typically lighter than standard electric tools or battery powered cordless tools. They are used by virtually every industrial sector from aircraft to automobiles to dairy farming to textiles.
While there are many types of compressors, they all perform the same function, which is to increase the pressure and reduce the volume of a given gas such as air. The most common type of compressors work by filling a chamber with air and then reducing the chamber’s volume. These are called positive displacement compressors. They are the most widely available compressors and include reciprocating, rotary screw and rotary vane compressors.
Of all the positive displacement compressors, Reciprocating or Piston compressors are the most commonly available on the market and can be found in ranges from fractional to very high horsepower. These compressors are sold world wide by many mass marketers and a large variety of retail outlets.
Rotary compressors (Screw and Vane) and the centrifugal compressors are also commonly found but in more of an industrial/commercial environment. Normally they are operated at significantly higher horsepower and flow rates, which makes them more expensive buy and to operate. For more information on rotary compressors please visit www.daveycompressor.com.
The following paragraphs contain some very general information on piston compressors that will allow for a more informed decision concerning the type and size of compressor being considered.
Single Stage and Two Stage Reciprocating Pumps
Reciprocating (Piston) Compressors can be widely found in two primary configurations; Single Stage and Two Stage.
Single stage air compressors work by drawing air in and subsequently compressing the air to its final pressure in single piston stroke. Single stage air compressors can attain pressures of up to 150 PSI. Typically, a single stage pump will have a higher CFM(Cubic Feet per Minute) rating than a two stage pump because every cylinder is drawing in air and compressing it with air during every rotation.
Two stage air compressors work in a very similar manner with the primary difference being that they compress the air in 2 steps or stages. During the first step or stage, air is drawn in and compressed to an intermediate pressure. After being compressed in the first stage, the air is piped, usually through an intercooler where the air is allowed to cool, to be compressed in the final or second stage. Two stage compressors are normally good for pressures up to 200psi. Two stage pumps are more efficient at higher pressures because the air is cooled between the stages.
DCFM, SCFM and ACFM
            Displaced CFM (DCFM) is a mathematical formula that calculates the bore, stroke and rpm into a CFM figure(Bore x stroke x rpm/2200=DCFM). This figure will always be the highest CFM because this formula does not take into account variables like temperature, atmospheric pressure, humidity, friction and heat dissipation.
Another CFM term often used is Standard CFM (SCFM).  It defined as the measured flow of free air and converted to a standard set of reference conditions (14.5 PSIA, 68 Degrees F, and 0% relative humidity).
Yet another CFM term is Actual CFM (ACFM). AFCM can be determined in a number of different ways. The most common methods include measuring the volume of air that is moved through an orphic plate or measuring pump up times on large compressor tanks and running through a simple calculation. This CFM number takes in effect all the variables and will give the true output of the pump at the current working conditions (i.e. temperature, altitude, humidity, …).
Often times, CFM numbers are also shown at various pressures.  These numbers can be very useful to help determine if a compressor produces enough CFM for the desired application, but can be confusing when comparing differing pressures or volumes or different compressors.
The best way of comparing compressors is through SCFM. Since all the measurements are calculated back to a set of reference standard conditions, it levels the playing field among the multitude of different manufacturers.
Electric Motors and Horsepower
         Compressors are often rated by Horsepower(HP). As simple as this sounds, there are different variations of HP.  Some compressor manufacturers rate their air compressors by peak horsepower, also known as brake horsepower. Peak horsepower is the maximum output that a motor can produce while the motor has the start windings engaged. Peak HP can be as much as 5-7 times the rated or running HP. Under normal operating conditions, the start windings are only engaged for a small fraction of a second. Therefore, using peak horsepower as a comparison tool can be somewhat misleading since under normal operating conditions the motor only develops this horsepower during startup.  If  a motor drive system causes the start winding to remain engaged for a long period of time, the motor will either overheat if it has thermal protection or fail prematurely.
Most electric motor manufacturers rate their motors by the horsepower developed after the motor has come up to its designed operating rpm’s and disengaged the start windings. This is often referred to as running or rated horsepower and is a true indication of the HP a motor can sustain over a long period of time.
Some other factors to consider when looking at motors is Duty Cycle and Service Factor.  Duty cycle is normally rated as either intermittent or continuous and is defined as the time rating under full load.   In other words can the motor run at full load horsepower continuously or only intermittently. The other of the two noteworthy factors is the Service Factor (S.F.) rating of the motor. It is defined as the percentage of rated horsepower at which the motor can safely operate (i.e. 1.15 SF = 115% of rated HP).  Higher service factors allow motors to handle more varied conditions without causing motor overheating or premature motor failure.  Examples that could cause a motor to run within its Service Factor could be caused by low voltage, higher ambient temperatures, higher startup load …etc.
Note: Many companies are now eliminating the peak HP reference and instead using SCFM as a more accurate performance indicator.
Air Compressor Buying Guidelines
            Before choosing any compressor to purchase, understanding the compressor’s uses will ensure that the machine can do the required job. Buying a compressor that is too small will waste valuable time. Buying a compressor that is way too large will waste valuable resources. (See the CFM Usage Chart)
It is worth noting that the price of a compressor cannot be based solely on the up front purchase price of the unit. The price of any item should be based on the overall cost over an extended period of time or the life of the unit. Inexpensive units are designed to be disposable, like lighters.
The questions that need to be answered are:
1.)   What is the maximum required operating pressure?
This will determine if a Single Stage or Two Stage compressor will be needed
2.)   What is the maximum required CFM usage?
      Add up all of the air tools that are to be used at the same time.  When looking at the compressor, add approximately 30% to the determined CFM number. This  will allow for a reasonable buffer against unknown or uncommon compressor    usage.
Do not simply add up all of the air tools that will be used throughout the work day since this will produce an inflated CFM number and require the purchase of an overly large compressor.
3.)   Does the machine need to be portable or stationary?
Determine whether or not the unit will need to be moved around your facility or work site regularly or if it will be a stationary unit. This will aid in determining other factors such as size and weight. Higher pressures and volumes will require the unit to be larger in size and heavier in weight since horsepower requirements, pumping systems, chassis construction, electrical components, etc... will have to be larger to accommodate these increases.
4.)   What type of drive system is needed? Electric Motor or Gasoline Engine?
Knowing the environment that the compressor is to be used in will determine what type of drive system the machine will need.  If there is always electrical power available, then the drive system should be an electric motor since they are significantly less expensive to buy and run and require less overall maintenance. If electrical power is not always available then the convenience of a gasoline engine driven compressor will be the way to go.  They offer the best in portability and work area flexibility.
5.)   What receiver tank size will be needed?
The size of the compressor tank, usually measured in gallons, should be determined by the overall type of usage.  If the usage is in short quick concentrated bursts, such as an air nailer, then a small tank size can be used. If the unit is to sustain long periods of usage, such as a board sander or impact wrench, a larger tank size will be necessary.
Choosing the Correct Compressor Company
There are a large number of manufacturers of air compressors in the U.S. today and any one of them will be more than happy to sell you an air compressors. Before purchasing any unit from a manufacturer, there are several key factors that should be considered:

pelumasan dan teknologinya

1. Tribologi

Tribology berasal dari kata tribos (bahasa Yunani yang berarti rubbing, dan logy atau logia artinya studi. Tribologi adalah studi tentang interaksi atau rubbing dari permukaan yang saling bergerak relatif..
pelumasanWalaupun penggunaan pelumas sudah dimulai sejak jaman kuno, misalnya pada peralatan seperti roda pembuatan keramik, engsel pintu, roda kereta, seluncur untuk menyeret batu besar/patung di Mesir dll. Namun pembahasan secara ilmiah terhadap teknologi pelumas dan pelumasan ini relatif baru. Perumusan pertama hukum tribologi baru mengemuka pada abad 15, pada saat itu insinyur-artis, Leonardo da Vinci (1452-1519), menemukan bahwa gaya friksi sebanding dengan gaya normal. Terminologi TRIBOLOGI diperkenalkan baru sekitar tahun 1966 sebagai ilmu sain tentang friksi (friction), keausan (wear) pelumasan (lubrication), dan sudah digunakan secara global untuk menggambarkan aktifitas yang jangkauannya luas ini.
Friction biasanya merupakan cabang ilmu dari bidang teknik mesin ataupun fisika. Wear biasanya bagian dari ilmu bahan atau metalurgi. Lubrication adalah cabang dari Tribology. Dengan demikian tribologi adalah ilmu indisipliner dalam semua aspek, dan memberikan dasar sain untuk memahami fenomena gesekan dan pelumasan dalam sistim tribologi. Efisiensi pelumasan dan aplikasi pelumas selanjutnya tergantung pada paremeter kunci seperti konsistensi, properti aliran atau viskositas untuk cairan yang selalui muncul pada spesifikasi semua pelumas.

2. Friksi (Friction)

Friksi adalah gaya yang menahan gerakan sliding atau rolling satu benda terhadap benda lainnya. Friksi merupakan faktor yang penting dalam mekanisme operasi sebagian besar peralatan atau mesin.
Friksi besar (high friction) dibutuhkan untuk bekerjanya mur dan baut, klip kertas, penjepit (tang catut), sol sepatu, alat pemegang dll. Gaya friksi dibutuhkan pada saat kita jalan agar tidak terpeleset. Friksi juga dibutuhkaan agar dapat menumpuk pasir, apel dll.
Namun friksi juga merupakan tahanan tehadap gerakan yang bersifat merugikan 20% tenaga mesin mobil dipergunakan untuk mengatasi gaya friksi pada elemen mesin yang bergerak.
Oleh karena itu friksi kecil (low friction), dikehendaki untuk benda yang bergerak seperti mesin tenaga (engine), ski, elemen arloji/jam dll.
Disamping itu juga dibutuhkan friksi konstan (constant friction) yaitu untuk rem, dan kopling agar geakkan tidak tersendat sendat.
Friksi telah dipelajari sebagai cabang mekanika beberapa ratus tahun yang lalu, dan hukum dan metode untuk memperkirakan besarnya friksi telah diketahui 2 abad lalu. Namun mekanisme friksi, yaitu proses hilangnya energi jika dua permukaan saling bergesek tidak dapat diterangkan dengan baik.
Penyebab utama friksi antara dua logam kelihatannya adalah gaya tarik (adesi) daerah kontak (contact region) dari permukaan yang secara mokroskopik tidak beraturan. Jika diperbesar permukaan menyerupai bukit dan lembah.
Jika ada beban, ketika 2 permukaan bersinggungan, dua bukit menempel (adesi atau menyatu) atau terkunci dilembah permukaan dihadapannya. Friksi timbul akibat adanya geseran (shearing) bukit yang menyatu tersebut dan jua akibat ketidak teraturan permukaan.tersebut, bagian yang keras tertanam kepada bagian lunak. Friksi dari slidding dua benda padat yang diperoleh dari ekperimen sederhana menghasilkan kesimpulan sbb :
  1. Besarnya friksi hampir tidak bergantung pada luas kontak. Jika sebuah bata ditarik diatas meja, gaya friksi tetap sama, baik posisi bata berdidri ataupun tidur. (Leonardo da Vinci (1452-1519)
  2. Friksi berbanding lurus dengan beban yang bekerja pada permukaan.
    Jika bata ditumpuk empat ditarik diatas meja, besarnya friksi empatkalinya friksi satu batayang ditarik..
Jadi rasio gaya friksi F terhadap beban L adalah tetap. Rasio yang tetap tersebut disebut koefisen friksi (coefficient of friction ) dan biasanya diberi simbol huruf Yunani mu. Secara matematik persamaan dapat ditulis sbb :
miu

Koefisien friksi tidak punya satuan, karena friksi dan beban yang diukur dalam satuan gaya (pound atau Newton) saling meniadakan.
Sebagai contoh : Harga koefisien friksi =0,5 untuk kasus bata ditarik diatas kayu yang berarti bahwa dibtuhkan gaya sebesar setengah dari berat bata untuk mengatasi friksi, dan menjaga bata bergerak secara konstan. Gaya friksi arahkan berlawanan dengan arah gerak bata. Karena friksi timbul antara permukaan yang bergerak maka ini disebut friksi kinetik (kinetic friction).
Ini untuk membedakan dengan friksi statik (static friction), yang bekerja pada permukaan yang diam. Harga friksi statik selalu lebih besar dari friksi kinetik Friksi rolling (rolling friction) terjadi jika suatu roda, slinder ataupun bola menggelinding bebas diatas permukaan, sepertihalnya pada ball tau roller bearing. Sumber friksi utama dalam gerakan rolling adalah disipasi energi yang meilbatkan deformasi benda. Jika bola keras menggelinding diatas permukaan, bola sedikit peyang dan permukaan sedikit legok pada daerah kontak. Deformasi elastik atau kompresi pada daerah kontak tersebut merupakan penghambat gerakan dan energinya tidak kembali saat benda kembali ke bentuk semula. Enegi yang hilang pada kedua bagian permukaan sama dengan energi yang hilang pada bola yang jatuh dan terpantul. Besarny friksi slidding pada umumnya 100 sampai 1000 kali lebih besar dibandingkan dengan friksi rolling.Keuntungan gerakan rolling dipahami oleh manusia pendahulu sehingga ditemukan roda.

3. Keausan (wear)

Keausan (wear) adalah hilangnya materi dari permukaan benda padat sebagai akibat dari gerakan mekanik. Keausan umumnya sebagi kehilangan materi yang timbul sebagai akibat interaksi mekanik dua permukaan yang bergerak slidding dan dibebani. Ini
merupakan fenomena normal yang terjadi jika dua permukaan saling bergesekan, maka akan ada keausan atau perpindahan materi.
Contohnya uang logam manjadi tumpul setelah lama dipakai akibat bergesekan dengan kain dan jari manusia. Pensil mejadi tumpul akibat bersesek dengan kertas, jalan kerena menjadi legok atau tumpul akibat digelindingi oleh roda kereta terus menerus..
Hanya makhluk hidup (sendi tulang) yang tidak rusak akibat keausan disebabkan memilki kemampuan penyembuhan diri. Dengan pertumbuhan. Namun ada juga organ yang tidak punya kemampuan pulih, misalnya gigi. Studi tentang keausan secatra sistematik dihampat oleh dua faktor utama yaitu;
1. Adanya sejumlah mekanisme proses keausan yang bekerja terpisah.
2. Kesulitan mengukur jumlah kecil materi yang terlibat.
Kesulitan ini dapat diatas menggunakan teknik penelusuran (tracer techniques) isotop radioaktif yang memnungkinakn pengukuran jumlah kecil.
Dikenal ada jenis keausan 4 jenis keausan yaitu sebagai berikut :
Adhesive wear adalah jenis yang paling umum, timbul apabila terdapat gaya adesi kuat diantara dua materi padat. Apabila dua permukaan ditekan bersama maka akan terjadi kontak pada bagian yang menonjol. Apabila digeser maka akan terjadi penyambungan dan jika geseran dilanjutkan akan patah. Dan jika patahan tidak terjadi pada saat penyambungan maka yang timbul adalah keausan. Keausan adesi tidak diinginkan karena dua alasan :
  1. Kehilangan materi pada akhirnya membawa pada menurunnyanya unjuk kerja suatu mekanisme.
  2. Pembentukan partikel keausan pada pasangan permukaan slidding yang sangat rapat dapat menyebabkan mekanisme terhambat atau mahkan macet, padahal umur peralatan masih baru.
Keausan adesi beberapa kali lebih besar pada kondisi tanpa pelumasan dibandingkan kondisi permukaan yang dipplumasi dengan baik.
Keausan abrasi (abrasive wear) terjadi apabila permukaan yang keras bergesekan dengan permukaan yang lebih lunak., meninggalkan goresan torehan pada permukaan lunak.
Abrasi juga bisa disebabkan oleh patahan partikel keras yang bergeser diantara dua permukaan lunak. Fragmen abrasif yang ada dalam fluida mengalir cepat juga dapat menyebabkan tertorehnya permukaan, jika membentur permukaan pada kecepatan tingiii. Karena keausan abrasi terjadii oleh adanya partikel lebih keras dari permukaan masuk sistem, maka pencegahannya adalah dengan mengeliminasi komtaminan keras.
Corrosive wear occurs whenever a gas or liquid chemically attacks a surface left exposed by the sliding process. Normally, when a surface corrodes, the products of corrosion (such as patina) tend to stay on the surface, thus slowing down further corrosion. But, if continuous sliding takes place, the sliding action removes the surface deposits that would otherwise protect against further corrosion, which thus takes place more rapidly. A surface that has experienced corrosive wear generally has a matte, relatively smooth appearance.
Surface-fatigue wear is produced by repeated high stress attendant on a rolling motion, such as that of metal wheels on tracks or a ball bearing rolling in a machine. The stress causes subsurface cracks to form in either the moving or the stationary component. As these cracks grow, large particles separate from the surface and pitting ensues. Surfacefatigue wear is the most common form of wear affecting rolling elements such as bearings or gears. For sliding surfaces, adhesive wear usually proceeds sufficiently rapidly that there is no time for surface-fatigue wear to occur.
Though the wear process is generally thought of as harmful, and in most practical situations is so, it has some practical uses as well. For example, many methods of producing a surface on a manufactured object depend on abrasive wear, among them filing, sanding, lapping, and polishing.
Many writing instruments, principally the pencil, crayon, and chalk, depend for their effect on adhesive wear. Another use is seen in the wear of the incisor teeth of rodents. These teeth have hard enamel covering along the outer curved surface but only soft dentine on the inner surface.
Hence, abrasive and adhesive wear, which occurs more rapidly on the softer side, acts to maintain a sharp cutting edge on the teeth.

4. Pelumasan (Lubrication)

Pelumasan adalah tindakan menempatkan pelumas antara permukaan yang saling bergeser untuk mengurangi keausan dan friksi. Pengembangan dan uji pelumas merupakan aspek tribologi yang menerima perhatian sangat besar. Satu perusahaan pelumas bisa memasarkan ratusan jenis pelumas dan tidak ada.
Penggunakan pelumas pada jaman kuno, seperti tergambar pada relief dinding batu di Mesir 4,000 yl., yaitu orang melumasi jalan saat menyeret patung batu yang berat. Pelumasan pada jaman modern, sistim pelumasan didesain untuk mengurangi keausan alat sehingg dapat beroperasi lama dan tanpa pemeliharaan.
Alam menggunakan cairan yang disenbut synovial fluid pada pelumasan tulang sendi hewan dan manusia. Sedangkan manusia jaman prasejarah menggunakan lumpur untuk menarik seluncur.
Pelumas dari lemak binatang dipakai untuk gerobak pertama, dan terus digunakan sampai abad 19 ketika industri minyak bumi (petroleum) muncul, yang kemudian mejadi sumber utama pelumas mineral (mineral oil) atau pelumas petro (petroleum lubricant).
Kemampuan pelumas petro terus dikembangkan untuk memenuhi bervariasi kebutuhan spesifik seperti sepeda motor, mobil, pesawat, mesin turbo, kereta api, mesin pembangkit tenaga dll. dan tuntutan bertambahnya kecepatan dan kapasitas mesin transportasi maupun mesin industri.
Zaman jet dan ruang angkasa memperbaharui minat orang pada pelumas sintetik (synthetic lubricants) karena menawarkan unjuk kerja superior dibandingkan pelumas petro. Minyak lumas sintetik walaupun sudah banyak dipasarkan namun harganya masih beberapa kali lebih mahal dibandingkan dengan pelumas petro konvensional.
Akhir-akhir ini kepedulian orang terhadap lingkungan memperbarui minat pada pelumas bio dari minyak nabati (vegetable oils) yang bersifat ramah lingkungan.

Jenis pelumasan

Ada tiga jenis pelumasan yaitu pelumasan oleh lapisan cairan (Fluid-film), pelumasan Batas ( Boundary Lubrication), Pelumasan padat ( Solid Lubrication):
1. Pelumasan Lapisan Fluida (Fluid-film lubrication)
Pelumasan ini dilakukan dengan menyisipkan (interposing) lapisan cairan yang dapat memisahkan secara sempurna permukaan yang bergerak. Lapisan cairan mungkin secara sengaja disediakan seperti minyak lumas pada bantalan (bearings) atau tanpa
sengaja misalnya air yang tergenang di jalan dan roda mobil.
Meskipun umumnya fluida berupa cairan, tetapi dapat juga dari gas. Gas yang digunakan umumnya adalah udara. Untuk menjaga agar permukaan tetap terpisahkan maka perlu adanya kesetimbangan antara gaya tekanan oleh lapisan fluida dan gaya beban pada permukaan yang bergesek.
Jika tekanan antara dua permukaan ditimbulkan oleh hasil gerakan dan bentuk daari permukaan tersebut, sistim ini disebut pelumasan hidrodinamik (hydrodynamic lubrication). Jenis pelumasan ini bergantung pada viskositas dari pelumas cair.
Jika tekanan fluida diantara dua permukaan diberikan dari luar, misalnya pompa, pelumsan ini disebut pelumasan hidrostatik (hydrostatic lubrication).
2. Pelumasan Batas (Boundary lubrication)
Suatu kondisi antara pelumasan lapisan fluida dan keadaan tanpa pelumas dan ada disebut pelumasan batas (boundary lubrication). Pada kondisi ini properti permukaan dan properti pelumas menentukan besarnya friksi sistim ini. Pelumasan batas menunjukkan salah satu fenomena pelumasan yang sangat penting, yang dijumpai terutama pada saat mesin start dari keadaan berhenti.
3. Pelumasan Padat (Solid lubrication)
Materi padat seperti graphite, molybdenum disulfide (Moly) dan PTFE (Teflon) digunakan secara luas jika pelumas biasa tidak memiliki kemampuan menahan beban dan suhu yang ektrim. Pelumas tidak hanya dari lemak, serbuk, gas tapi juga kadang bahan
logam dipakai sebagai permukaan gesek pada beberapa mesin.
Beberapa puluh tahun terakhiri ini juga dikenal jenis pelumas baru yang disebut pelumas sol (sol-lube). Pelumas ini merupakan koloid, yaitu suspensi pelumas padat dalam pelumas cair.

6. Apa yang ditawarkan oleh Tribologi ?

Fenomena yang menjadi perhatian tribology sangat fundamental dan sering ditemui dalam kehidupan manusia, dalam lingkungan benda padat. Aplikasi tribologi yang telah memberikan kemudahan bagi kehidupan kuno, juga diperlukan bagi kehidupan modern,
seperti yang terdapat pada banyak sistim mekanik yang bekerja berdasarkan nilai friction, lubrication and wear. Dilain pihak dapat dijumpai efek tribologi yang menciptakan kebisingan, sehingga diperlukan kehati hatian dalam mendesain sistim, agar tidak
menciptakan ketidak nyamanan akibat masalah friksi ataupun keausan berlebihan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa friksi biasanya membuang energi yang cukup besar, sedangkan keausan adalah membuang waktu produksi, karena harus mengganti komponen mesin. Oleh karena itu tribologi mendapatkan perhation yang semakin meningkat karena disadari bahwa energi yang terbuang akibat friksi dan wear sangat besar (di USA lebih dari 6% Gross National Product [GNP]). Oleh karena itu potensi yang dijanjikan dengan memperbaiki pengetahuan tribologi juga akan besar.
Seiring dengan perkembangan peralatan modern yang sangat komplek, kecepatan dan panas tinggi, tribologi menawarkan suatu metode mengendalikan keausan berdasarkan pendekatan sistematis dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti mekanika fluida, metalurgi, fisika-kimia permukaan dan pelumas.

Jumat, 01 Mei 2015

termoelektrik

Sampai saat ini pembangkitan listrik dari sumber panas harus melalui beberapa tahap proses. Bahan bakar fosil akan menghasilkan putaran turbin apabila dibakar dengan tekanan yang sangat tinggi. Hasil putaran turbin tersebut akan dipakai untuk memproduksi tenaga listrik. Kira-kira 90 persen energi listrik dunia yang berasal dari sumber panas masih memakai cara ini. Sehingga efisiensi energi masih sangat rendah akibat beberapa kali proses konversi. Panas yang dihasilkan banyak yang dilepas atau terbuang percuma.

  Sebagai contoh, 1 Watt tenaga listrik membutuhkan sumber input panas sebesar 3 Watt. Sumber panas sebesar 2 Watt yang tidak dipakai terpaksa dibuang ke lingkungan. Apabila proses konversi ini dapat diubah, efisiensi energi akan menjadi lebih besar karena listrik bisa didapatkan langsung dari sumber panas tanpa melalui beberapa kali tahap konversi. Para ilmuwan dari University of California, Berkeley, telah berhasil mengembangkan teknik konversi listrik yang baru sehingga masalah ini mungkin dapat terpecahkan sebentar lagi.

Mereka telah berhasil mengubah sumber panas langsung menjadi tenaga listrik dengan menggunakan molekul organik yang terperangkap diantara partikel-partikel metal. Teknik ini dikembangkan dari Seebeck effect yang menjelaskan bahwa tegangan listrik dapat terjadi ketika dua jenis metal yang berlainan suhu saling berhubungan. Apabila teknik ini dapat diaplikasikan lebih lanjut, maka termoelektrik organik dapat menjadi jawaban baru terhadap masalah sumber energi yang ada saat ini

Sumber : http://www.berkeley.edu/news/media/releases/2007/02/15_heatelectricity.shtml

mengapa angin terasa sejuk?


Mengapa angin terasa sejuk ?

Jika sedang kepanasan membara 😀 lalu tiba-tiba angin berhembus pelan, tubuh pun terasa segar. Biasanya hembusan angin terasa sejuk. Mungkin anda pernah merasakan hembusan angin terasa panas ? 😉 Udara bisa terasa panas atau dingin tetapi angin cenderung sejuk atau dingin. Mengapa hembusan angin terasa sejuk ?
Angin adalah udara yang berpindah tempat karena perbedaan tekanan udara. Angin juga bisa terjadi akibat rotasi bumi tetapi mengenai hal ini tidak diulas pada tulisan ini. Angin biasanya berpindah dari tempat yang mempunyai tekanan udara tinggi ke tempat yang mempunyai tekanan udara rendah. Tekanan udara berkaitan dengan kerapatan atau massa jenis udara. Pada ketinggian yang sama, udara yang mempunyai kerapatan atau massa jenis lebih besar mempunyai tekanan yang lebih besar. Sebaliknya udara yang mempunyai kerapatan atau massa jenis kecil mempunyai tekanan yang lebih kecil.
Massa jenis atau kerapatan udara berkaitan dengan volume udara. Semakin besar volume udara semakin kecil kerapatan udara. Salah satu sifat benda adalah memuai jika dipanaskan dan menyusut jika didinginkan (kecuali air. Air berperilaku menyimpang antara suhu 0 oC sampai 4oC). Udara yang panas biasanya memuai sehingga volumenya bertambah. Karena volume bertambah maka kerapatan udara panas berkurang. Udara panas yang kerapatannya berkurang secara alami bergerak ke atas menuju tempat yang mempunyai kerapatan lebih kecil. Jika di sekitar udara yang panas terdapat udara yang lebih sejuk maka udara yang lebih sejuk secara alamiah langsung bergerak menuju posisi awal udara panas.
Pada mulanya tubuh kita kepanasan karena udara di sekitar kita lebih panas. Panas secara alami berpindah dari udara yang panas menuju tubuh kita yang lebih dingin. Akibatnya tubuh kita menjadi kepanasan. Ketika ada angin, udara panas berpindah tempat (bergerak ke atas) dan posisinya digantikan oleh udara yang lebih dingin. Adanya perbedaan suhu antara tubuh kita yang lebih panas dengan udara yang lebih dingin menyebabkan panas dari dalam tubuh kita berpindah menuju udara yang lebih dingin. Kita merasa sejuk atau dingin karena sebagian panas dalam tubuh kita telah berpindah menuju udara dingin

hukum archimedes

Hukum Archimedes menyatakan sebagai berikut, Sebuah benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya.
Sebuah benda yang tenggelam seluruhnya atau sebagian dalam suatu fluida akan mendapatkan gaya angkat ke atas yang sama besar dengan berat fluida fluida yang dipindahkan. Besarnya gaya ke atas menurut Hukum Archimedes ditulis dalam persamaan :
Fa = ρ v g
Keterangan :
Fa = gaya ke atas (N)
V = volume benda yang tercelup (m3)
ρ = massa jenis zat cair (kg/m3)

Butiran Es Kosmis Mengawali Proses Menuju Blok Bangunan DNA dan Asam Amino

Dengan menggunakan teknologi baru pada teleskop dan yang ada di laboratorium, para peneliti menemukan sepasang molekul prebiotik penting di ruang antarbintang. Penemuan ini menunjukkan bahwa beberapa bahan kimia dasar yang merupakan langkah-langkah kunci menuju ke kehidupan mungkin telah terbentuk pada butiran es berdebu yang mengambang di antara bintang-bintang.
Para ilmuwan menggunakan Teleskop Green Bank milik National Science Foundation di West Virginia untuk mempelajari awan gas raksasa berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya dari bumi, dekat dengan pusat Galaksi Bima Sakti kita. Bahan kimia yang mereka temukan pada awan tersebut meliputi suatu molekul yang diduga menjadi pelopor bagi komponen kunci DNA dan lainnya yang mungkin berperan dalam pembentukan asam amino alanin.
Molekul yang baru ditemukan itu, disebut cyanomethanimine, merupakan salah satu langkah dalam proses yang diyakini memproduksi adenin, satu dari empat nukleobasa yang membentuk “anak tangga” dalam struktur seperti-tangga DNA. Molekul lainnya, disebut ethanamine, diduga berperan dalam membentuk alanin, satu dari dua puluh asam amino dalam kode genetik.

Aerosol Gunung Berapi, Bukan Polutan, Meredam Pemanasan Global

Berawal dari upaya mencari petunjuk tentang mengapa bumi tidak mengalami pemanasan pada tingkat yang telah diperkirakan para ilmuwan antara tahun 2000 dan 2010, tim riset dari University of Colorado Boulder kini beralih pada penyebab yang selama ini tersembunyi: puluhan gunung berapi yang memuntahkan sulfur dioksida.
Hasil penelitian mereka pada dasarnya mencabut tudingan bersalah pada negara-negara Asia, termasuk India dan Cina, yang diperkirakan telah meningkatkan emisi sulfur dioksida industri hingga 60 persen dari tahun 2000 hingga 2010 lewat pembakaran batubara, ungkap penulis utama studi Ryan Neely. Sejumlah kecil emisi sulfur dioksida dari permukaan bumi pada akhirnya membumbung naik setinggi 12 hingga 20 mil ke lapisan aerosol stratosfir di atmosfer, tempat di mana reaksi kimia menciptakan asam sulfat dan partikel air yang memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa, mendinginkan planet ini.
Neely menunjuk beberapa pengamatan sebelumnya yang memperlihatkan bahwa meningkatnya aerosol di stratosfir sejak tahun 2000 justru mengimbangi 25 persen tingkat pemanasan yang diduga hasil dari pelepasan emisi gas rumah kaca oleh manusia. “Penelitian baru ini menunjukkan bahwa sejumlah emisi dari gunung berapi yang kecil hingga menengah telah memperlambat pemanasan planet ini,” tegas Neely, seorang peneliti dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences.
Studi yang dipubikasikan secara online dalam jurnal Geophysical Research Letters ini sebagian dilakukan untuk menyelesaikan dua hasil studi sebelumnya yang saling bertentangan mengenai asal usul sulfur dioksida di stratosfer. Salah satunya studi tahun 2009 yang dipimpin Hoffman David dari NOAA, yang menunjukkan bahwa peningkatan aerosol di stratosfer mungkin berasal dari meningkatnya emisi sulfur dioksida di India dan Cina. Sebaliknya, studi tahun 2011 yang dipimpin Vernier menunjukkan bahwa letusan gunung berapi berperan dalam meningkatkan partikulat tersebut di stratosfer.
Studi baru ini juga didasarkan pada studi tahun 2011 yang dipimpin Salomo, yang menunjukkan bahwa aerosol di stratosfer meredam sekitar seperempat dari pemanasan efek rumah kaca di bumi selama dekade terakhir.
Studi baru ini bergantung pada pengukuran jangka panjang perubahan “kedalaman optik” lapisan anaerosol di stratosfir, dengan mengukur tingkat transparansinya, kata Neely. Sejak tahun 2000, kedalaman optik di lapisan aerosol stratosfir telah meningkat sekitar 4 hingga 7 persen, yang berarti sedikit lebih buram sekarang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Implikasi terbesarnya di sini adalah agar para ilmuwan perlu lebih memperhatikan letusan kecil dan sedang gunung berapi saat mencoba memahami perubahan iklim bumi,” saran Brian Toon dari Departemen Ilmu Atmosfer dan Kelautan University of Colorado, Boulder, “Namun secara keseluruhan, letusan-letusan ini tidak akan menangkal efek rumah kaca. Emisi gas vulkanik bersifat naik dan turun, membantu mendinginkan atau memanaskan planet ini, sementara emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia terus meningkat.”

temperatur matahari

Sudah puluhan tahun lamanya, ilmuwan dibuat penasaran terkait misteri korona atau atmosfer matahari. Aneh memang, atmosfer matahari ternyata lebih panas dari permukaan matahari itu sendiri.
Menurut logika, seharusnya permukaan matahari yang lebih dekat dengan inti memiliki suhu yang lebih tinggi dari atmosfer atau korona. Namun faktanya tidak demikian, suhu permukaan matahari hanya 6.000 derajat Celsius.
Di sisi lain, suhu rata-rata korona justru mencapai 1.000.000 derajat Celsius. Bahkan, di beberapa bagian tertentu suhu koronanya bisa 2.000.000 derajat Celsius!
Peneliti NASA, Dr. Jim Klimchuck, mengatakan bila fenomena yang tidak lazim itu disebabkan oleh ledakan-ledakan yang terjadi di atmosfer matahari. Jumlahnya ledakan yang disebut 'nanoflare' itu bukan hanya satu atau dua, tetapi jutaan.
Yang lebih mengejutkan, satu ledakan nanoflare diprediksi sama kuatnya dengan ledakan 50 juta ton bom hidrogen, bom terkuat yang pernah diledakkan di bumi. Nah, satu ledakan nanoflare bisa meninggalkan panas setara dengan 11 juta derajat Celsius.
Berdasarkan penelitian Dr. Jim Klimchuck, jumlah ledakan nanoflare menurun drastis di permukaan matahari. Akibatnya, suhu permukaan matahari lebih rendah dari korona yang menjadi tempat berlangsungnya ledakan jutaan nanoflare.
"Setiap nanoflare menghasilkan ledakan setara dengan bom terkuat di bumi. Meskipun ledakan nanoflare di korona kecil, jumlahnya yang mencapai jutaan bisa melonjakkan suhu atmosfer matahari dengan drastis," ujar Dr. Jim Klimchuck, Daily Mail (28/04).
Bukti keberadaan nanoflare di atmosfer matahari pun sudah dikantongi oleh NASA. Mereka berhasil mengamatinya lewat teleskop yang khusus dipakai untuk meneliti matahari, Solar Dynamics Observatory (SDO).

Senin, 16 Maret 2015

Tekan Subsidi Listrik, Pemerintah Terapkan Pengaturan Target Kinerja PLN

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah mengembangkan Performance Based Regulatory (PBR) pengaturan target performance untuk menekan subsidi listrik pada tahun anggaran 2015 sehingga tidak lagi menggunakan metode biaya pokok produksi (BPP).


Pengaturan target performance ini diterapkan agar PLN dapat meningkatkan efisiensi, memperbaiki kualitas

Keracunan AC taksi, sopir dan 3 penumpang pingsan dalam mobil



Merdeka.com - Agaknya masyarakat perlu mewaspadai penggunaan AC di mobil-mobil. Sebab, bisa jadi mesin pendingin ini mengandung racun mematikan. Seperti yang terjadi di Jalan A Yani, Surabaya, Jawa Timur, Jumat petang (20/2).

Tiga penumpang Taksi Bosowa dan sopirnya 'mabuk' tak sadarkan diri. Diduga, keempat orang itu keracunan karena menghirup udara dingin dari AC dalam mobil.

Bagaimana cara kerja mesin pendingin AC?



Bagaimana cara kerja mesin pendingin AC? sehingga mampu memberikan efek pendingin dalam ruangan Anda? AC alias Air Conditioner alias Pengkondision Udara merupakan seperangkat alat yang mampu mengkondisikan ruangan yang kita inginkan, terutama mengkondisikan ruangan menjadi lebih rendah suhunya dibanding suhu lingkungan sekitarnya. 
Seperangkat alat tersebut diantaranya:
  • kompresor, 
  • kondensor, 
  • orifice tube,
  •  evaporator, 

apa itu mesin carnot?



Mesin Carnot adalah mesin kalor hipotetis yang beroperasi dalam suatu siklus reversibel yang disebut siklus Carnot. Model dasar mesin ini dirancang oleh Nicolas Léonard Sadi Carnot, seorang insinyur militer Perancis pada tahun 1824. Model mesin Carnot kemudian dikembangkan secara grafis oleh Émile Clapeyron 1834, dan diuraikan secara matematis oleh Rudolf Clausius pada 1850an dan 1860an. Dari pengembangan Clausius dan Clapeyron inilah konsep dari entropi mulai muncul.

mengukur pemanasan global



Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa
Pada awal 1896, para ilmuwan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan suhu rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai.

Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.